<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ideografi'smanusia</title>
	<atom:link href="http://ideografi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ideografi.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 Mar 2008 05:32:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ideografi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ideografi'smanusia</title>
		<link>http://ideografi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ideografi.wordpress.com/osd.xml" title="Ideografi&#039;smanusia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ideografi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Persona Manusia</title>
		<link>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/persona-manusia/</link>
		<comments>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/persona-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 05:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ideografi</dc:creator>
				<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/persona-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[“Intinya itu, bagaimana selalu mampu menciptakan ruang. Kita selalu mampu melihat peluang tempat kita mampu menjadi diri sendiri”. (sebuah email balasan dari seorang teman DA, pukul 00.13 WIB, yang dikutip dari perkatann seorang seniman koreografer terkenal Indonesia asal Solo, Sardono W. Kusomo)   Dari perkataan yang lumayan puitis itu, bisa disimpulkan bahwa yang paling penting [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=12&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><b><i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">“Intinya itu, bagaimana selalu mampu menciptakan ruang.<br />
Kita selalu mampu melihat peluang<br />
tempat kita mampu menjadi diri sendiri”.</span></i></b><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">(sebuah email balasan dari seorang teman DA, pukul 00.13 WIB,<br />
yang dikutip dari perkatann seorang seniman koreografer terkenal Indonesia asal Solo, Sardono W. Kusomo)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dari perkataan yang lumayan puitis itu, bisa disimpulkan bahwa yang paling penting dari esensialtas manusia untuk menjadi Manusia adalah ruang, yang kalau tidak ada menciptakan ruang-menjadi (dari bodoh menjadi pintar, dari emosional jadi rasional dll). Ini hampir senada dengan apa yang dikatakan oleh sastrawan Inggris Bernard Shaw, “Kebanyakan orang percaya pada keadaan. Tapi saya tidak pernah percaya pada keadaan. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang yang bangkit dan mencari keadaan. Keadaan yang mereka inginkan, dan kalau tidak bertemu, menciptakan keadaan-keadaan tersebut.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Memang ada perbedaan yang signifikan antara kedua perkatann itu namun keduanya berangkat dari satu pemahaman akan pentingnya sebuah ruang. Manusia, siapapun dia, memang tidak akan pernah lepas dengan sebuah ruang untuk fisiknya. Kendati demikian dia akan terus mencari dan mencari saesuatu yang bisa melebihi sebuah ruang untuk sesuatu yang tidak memerlukan ruang. Ia adalah sebuah imajinasi, buah pikiran, sebuah mimpi, untuk membuat dia benar-benar menjadi Manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Yang mungkin agak dinomorduakan dari perkataan Sardono itu adalah “menjadi diri sendiri”; seperti apa sebenarnya sosok “diri sendiri” dalam manusia. Ini adalah sebuah pertanyaan yang ekstra klasik yang sampai sekarang manusia terus mendefinisikannya dan meredefinisikannya, mencari batasan-batasan, mencari lingkup-lingkup untuk dimasukkan pada yang namanya “diri sendiri”. “Manusia yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” (man ‘arafa nafsahu, ‘arafa Rabbahu), yang dulu sering saya dengar di pondok, dari perkataan para sufi-pemikir Islam, dan terus menerus diwariskan pada generasi berikutnya. Konon katannya, itu adalah perkataan Nabi Muhammad. Dan beberapa tahun ini, perkataan itu aku temukan juga dalam buku-buku filsafat Barat klasik sebelum Aristoles dan Sokrates (yang berarti sebelum Muhammad).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Hal ini menunjukkan betapa yang namanya Manusia adalah sebuah entitas super kompleks, yang oleh karenanya ia sama sukarnya dengan Tuhan untuk didefinisikan oleh ciptaan-Nya yang paling sempurnya, manusia sendiri. Lalu apa dan siapa Manusia menurut Tuhan dan manusia? Belum terjawab tuntas, setidaknya untuk seorang Fauzi bodoh. Dan tulisan ini juga bukan untuk menjawab pertanyaan besar tersebut. Tulisan ini Cuma sekadar untuk mendiskribsikannya sejauh interpretasi Fauzi atas berbagai pengalaman hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Manusia, menurut saya, akan lumayan menjadi Manusia pada saat dan ruang di mana bagian dari dirinya sedang terbagi dengan manusia yang lain (makhluk yang butuh berinteraksi, meminjam istilahmu). Ia menjadi manusia yang tidak utuh untuk dirinya sendiri, dan menjadi Manusia-utuh untuk dan dengan orang lain. Saat-saat itu mungkin tatkala ia sedang ‘menyatu’ dengan manusia yang lain. Katakanlah dalam ikatan “pacaran-cinta”, pernikahan, atau bisa juga terikat dalam sebuah rasa kemanusiaan (nilai-nilai moral/agama). Setidaknya manusia memiliki perasaan utuh sebagai Manusia pada saat-saat itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Contoh klasik sekali akan hal ini adalah penciptaan Hawa oleh Tuhan atas “permintaan” Adam (atau bisa juga menggunakan kata “untuk Adam”?). Di sebuah surga yang serba tersedia apapun secara otomatis, adalah sebuah keganjilan terganjil akan sosok manusia, Adam, yang masih menginginkan seorang yang “lain”, yang berbeda dalam beberapa hal dengan dia. Adam seperti merasa ada sesuatu yang mengurangi kediriannya, yang mereduksi kemanusiaanya walau Iblis merasa iri atasnya, yang Tuhan dengan tugas memuliakannya. Inilah sebuah bukti betapa manusia memang tidak untuk atau utuh-manusia dengan kelengkapan dan kesempurnaan dirinya; ia membutuhkan sesuatu yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Yang berikutnya adalah sebuah ikatan religius yang sering dikatakan pernikahan. Dalam ritual ini, proses “pacaran-percintaan” mendapatkan pengesahan secara agama dan legal. Tentu adanya pengesahan tersebut tidak jauh dari kebutuhan akan penyempurnaan kedirian manusia. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, untuk memenuhi hal itu adalah mereka merasa perlu untuk melegalkan pernikahan antar kaum pria dengan pria, pun kaum wanita dengan kaum wanita. Entah hal itu dibenarkan oleh agama atau hukum, hal tersebut cukup membuktikan betapa menusia membutuh yang lain untuk kediriannya untuk menjadi Manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dan terakhir adalah saat manusia berada dalam ruang nilai-nilai moral, agama, atau kemanusiaan. Manusia merasa dirinya Manusia yang utuh pada saat nilai-nilai moral, agama, kemanusiaannya, memerlukan sebuah ruang atau tempat untuk mengaktualisasikan, untuk mengada yang akan menyempurnakannya menjadi Manusia. Contoh untuk hal ini hampir setiap hari terjadi dalam kehidupan kita. Kita merasa bukan manusia pada saat kita tidak menolong orang yang sedang kesusahan sedang kita mampu untuk menolongnya. Atau, kita akan menuduh orang lain sebagai “binatang” pada saat orang lain tersebut kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Orang yang cukup banyak persedian nilai-nilai tersebut lalu bisa mengaktulisasikannya dalam tindakan nyata, maka dia akan merasa bahwa dia sebagai Manusia. Bahkan yang melebihi dari yang biasa dilakukan oleh “manusia” biasa akan dipanggil seorang “nabi”. Dan memang seroang nabi adalah seorang yang memiliki seluruh kapasitas kemanusiaan yang utuh. Sekali lagi hal tersebut di atas membuktikan bahwa kemanusiaanya Manusia terikat oleh manusia yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Tiga contoh tersebut menyimpulkan bahwa ruang-ruang dalam kehidupan manusia untuk menjadi Manusia memang bukan sesuatu yang konkret bahkan cenderung non-konkret, abstrak, yang mnyentuh sisi-sisi manusia yang paling susah untuk didefinisikan. Dan sepertinya sebuah pendefinisian akan mereduksi dan mengurangi sisi-sisi Manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, sebuah perasaan tidak akan pernah terdefinisikan oleh berjuta kata-kata untuk membatasinya. Ia seluas dan sesulit manusia itu sendiri. Definisi tidak bisa menyentuh, walau Cuma sisi luarnya saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Maka sungguh sebuah keharusan untuk bersyukur bagi Manusia yang berani merelakan kediriannya sendiri untuk menjadi Manusia. Dia tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sang Budhis yang merelakan bagian dirinya untuk orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Maka bersyukurlah Manusia yang memiliki Cinta-Kasih, dan jagalah ia sebagai sebuh cinta yang ber-”manusia”, bukan yang hewani. Dan bersyukurlah bagi mereka yang mengaktualisasikan nilai kemanusiaanya untuk manusia (aku sudah belum ya..?).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Karena: betapa sedikitnya semua itu ditemukan oleh Manusia, meski semua itu ada padanya! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Solo, Senin, 31 Desember 2007, pukul 18.30 WIB.©Fauzi, jëlêk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ideografi.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ideografi.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ideografi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ideografi.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ideografi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ideografi.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ideografi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ideografi.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ideografi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ideografi.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ideografi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ideografi.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ideografi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ideografi.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ideografi.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ideografi.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=12&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/persona-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f382fc6b601b25df24c3e4173888580d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ideografi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Yang Dipertanyakan*</title>
		<link>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/cinta-yang-dipertanyakan/</link>
		<comments>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/cinta-yang-dipertanyakan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 04:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ideografi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eskpresi Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ideografi.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Interpretasi Subjektif Tentang “Pacar dan Cinta”  1 Ditembak, untuk seorang cewek, mungkin menjadi hal terindah dalam hidupnya. Atau, menjadi hal yang paling menyakitkan dalam perjalan kehidupan manusia cewek. Tapi ada kalanya itu menjadi momen yang abu-abu alias gak jelas. Bisa juga sekadar: “kaget”. Untuk cewek satu ini barang kali yang paling berkesan bukan “tembakan”-nya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=11&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Sebuah Interpretasi Subjektif Tentang “Pacar dan Cinta”</span></b></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> </span><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">1</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Ditembak, untuk seorang cewek, mungkin menjadi hal terindah dalam hidupnya. Atau, menjadi hal yang paling menyakitkan dalam perjalan kehidupan manusia cewek. Tapi ada kalanya itu menjadi momen yang abu-abu alias gak jelas. Bisa juga sekadar: “kaget”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Untuk cewek satu ini barang kali yang paling berkesan bukan “tembakan”-nya tapi penembaknya, entahlah. Hal ini karena, menurutnya, si penembak baru saja kenal dengannya; dan tentu kesan yang tampil berbau negative atau paling tidak bikin penasaran: siapa sih cowok yang kayal gini. Fauzi terlalu tidak tahu untuk hal ini. Jujur dulu saya pernah ditanya oleh seorang akhwat yang sudah punya suami. Umurnya sama dengan Fauzi, dia bernama panggilan UMI. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Pertanyaan itu: “Apakah kamu udah punya pacar?” Pada saat itu, seperti biasa, saya tidak menjawab terlebih dahulu tapi balik bertanya, “Apa itu pacar? Dengan kriteria seperti apa dan bagaimana kita memposisikannya dalam pergaulan social kita, bahkan dalam pergaulan agama?” Jawabannya terlalu klise di telingan Fauzi, apalagi itu terlalu mengikuti konsessus umum yang berlaku, baik konsesus dari masyarakat pemuda umumnya atau dari golongan “aktivis religius” yang mengusung jargon: “cinta yes, pacaran no” (mungkin ini Cuma stereotype yang tidak beralasan). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Tentu saja Fauzi saat itu Cuma tertawa mendengar beberapa alasannya, apalagi bagi Fauzi yang saat itu sedang agak “sinting” dan sedikit agak tidak ‘manusiawi’ dan filosofis. Akhirnya Fauzi Cuma minta alamat emailnya, dengan harapan Fauzi dapat memberikan kriteria “pacar” yang, munurut Fauzi, lumayan agak sedikit “manusiawi”. Dan beberapa hari berikutnya email itu tertulis dan terkirim. Isi email itu seperti ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> Assalamuaiakum. Senang bertemu dengan seorang muslimah, apa lagi jika setiap bertemu adalah sebuah ilmu, di balik pertemuan itu. Bukankah itu yang selalu diajarkan oleh seorang pencari-penyebar ilmu sejati di dunia ini, dengan semboyanannya, &#8220;mencari ilmu itu wajib<br />
bagi seorang muslim dan muslimah.&#8221; Ya dia Muhammad. Nama yang penuh dengan pujian dan pengaguman (bukan pengkultusan diri pribadinya!?[ragawi]).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Menarik sekali ketika saya bertemu dengan muslimah ini, dia senang dipanggil dengan sebutan itu(?). Namanya &#8220;umi&#8221; yang mengisaratkan sebuah teladan dan perjuangan seorang ibu. Ditambah lagi &#8220;puji&#8221;, sesuatu yang pantas dia peroleh. Saat itu, ada pertanyaan yang menurut Fauzi pribadi sangat &#8220;pemuda&#8221; dan mungkin religius banget. Tapi Fauzi ingin membahasnya dalam ranah religiuitas, bukankah itu lebih menarik perhatianmu? Pertanyaan itu adalah pertanyaan umum,&#8221;apakah kamu punya pacar?&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Aku ingin mengklarifikasi jawabanku yang dulu: &#8220;ya, aku punya&#8221;. Jawaban ini sebenarnya sudah mencakup semua yang aku maksud dalam arti pacar yang aku definisikan, jadi menurut definisiku sendiri (mungkin Anda boleh tidak sejutu atau ingin memberikan masukan). Sekali lagi memakai definisiku, definisi yang dipakai oleh Fauzi sendiri, tidak orang lain siapapun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> Terus terang aku tidak punya “pacar”. Aku sedang menembak calon “pacar”, yang sejak dulu aku idamkan. “Seorang” pacar yang akan selalu menemani diri ini dalam tiga hal: pikiranku, hatiku, dan agamaku (mungkin sedikit ragaku) yang semuanya tidak pacarku itu, sedetikpun, meninggalkan ketiga itu. Atau, dengan perkataan lain: itu menjadi “prasyarat” yang harus dipenuhi oleh dia yang menjadi pacarku. Terlalu angkuhkah dan tidak manusiawi? Mungkin saja.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> Pacar-pikiranku, dialah yang membimbing nalarku dalam kehidupan yang sebentar ini. Dan itu aku tawarkan pada seorang pemikir, baik pemikir dalam agamaku atau duniaku. Siapa dia? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> Pacar-hatiku, dialah yang akan menjaga hati ini dari serbuan rayu kelicikan jiwa. Siapa?</p>
<p>Pacar-agamaku, dialah pacarku dalam bermanusia yang sejati. Dia harus menjadikanku seorang yang berhati-berpikir, tentu dalam bingkai raga. Namun sampai saat ini orang itu belum pernah menjawab pinanganku. Bukan dia tidak cinta padaku. Tidak, dia sangat cinta padaku. Aku tahu itu. Namun, cara bagaimana aku mencintainya itulah yang tidak mencerminkan cinta. Sebuah cinta pada sang kekasih. Aku masih belajar mencintai, sebelum aku benar-benar menjadi pecintanya (semoga). Entah bagaimana saya akan sampai padanya! Aku seharusnya sudah tahu, tapi seluruh diri ini bertolak belakang dari cinta yang saya tahu. Saya sedang mencari tali untuk sampai padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dialah MUHAMMAD yang sampai saat ini tidak aku dapatkan. Untuk sampai pada CINTANYA, CINTA MUHAMMAD yang pada akhirnya akan sampai pada Cinta-Tuhan, <span> </span>Ar-Rohman, Ar-Rohim (makna serampangannya Pecinta Sejati). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> (Tunjukkan aku ‘jalan’ pada KeduaNYA. Fauzi yg merindu!<span>  </span>Aku berdo&#8217;a semoga IBUKU memohonkannya untukKU, anaknya yg merindu. AMIN! Aku sudah tidak punya kekuatan untuk berdoa pada calon kekasihku, Mohammad dan Tuhan. Bisakah aku?????)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> Cinta, sebab tiga hal tersebut, harus melewati fiksasi tubuh dan waktu, untuk sampai pada semua itu namun tidak mengandaikan suatu keabadian cinta. Dan itu memperbolehkan mencintai orang (yang karena gagasan-perjuangannya) yang telah ditinggalkan oleh tubuh ringkihnya: sudah mati atau masih hidup. Tidak peduli itu disebut &#8220;homoseksual&#8221;, poli-multigami, heterseksual, dan sebagainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> Cinta dalam tafsiran ini tidak berdasarkan jenis kelamin (cowok-cewek), hubungan darah (ibu-bapak yang telah melahirkan kita), atau persahabatan dan sebagainya. Bukankah yang menjadikan &#8220;terlarangnya&#8221; pacaran (jika ikut “aliran” yang melarang pacaran), dalam tafsiran orang umum, adalah perangkap tubuh jelek ini? Menurut aku, ya. Menurut kamu?<span>  </span>Sampai dibalasan berikutnya. Ku tunggu balasan mu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">2</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Di sini, Fauzi mencoba memberikan ‘definisi baru’ tentang pacar dan cinta, yang melingkupi tiga karakter sekaligus prasyarat (kamu bisa menggunakan kata-kata suami-istri, kekasih dsb, jika kurang sreg dengan kata-kata itu). dari tiga hal itu, rasa-rasanya sulit terkumpul dalam diri manusia. Bisa dikatakan sebuah impian cinta utopis belaka, yang sangat mungkin bisa tidak berarti sama sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Hal ini mengaidaikan bahwa kita senang dan cinta pada hal-hal yang terbaik atau bahkan harus yang paling baik. Dan itu tidak ada, menurut Fauzi, kecuali dalam diri Muhammad dan Allah, tentu saja. Sebagai evidensinya kamu bisa menjejer sebutan yang Kedua (tentu juga ada pada diri Muhammad-Nya) dalam apa yang biasa disebut Asmaul Husna. Coba kamu artikan dan interpretasikan, dan bayangkan dalam dirimu satu saja, sebagai contoh Ar-Rohman, Sang Maha Pencinta-Kasih di dunia-akhirat, maka kamu akan menemukan bahwa itu adalah sebuah kesempurnaan, yang terbaik. Karena ke-Ar-Rohman-annya tidak sama dengan yang melekat pada manusia. Ketidak samaanya, jika memakai kata-katamu, “Jika memang pernikahan begitu indah, mengapa pula ada percaraian? Setelah melewati waktu bersama, pasangan mulai bosan dan saling menghujat. Lantas, dimana keindahan itu? where is the love?” Atau, lebih ekstreamnya, kenapa kita tidak mencintai mereka berdua saja? Bukankah “Dia<span>  </span>sumber cinta terbesar”? Ah… barang kali karena “Dia terlalu besar”, kita sebagai manusia tidak bisa menampung cintanya, yang tidak hanya sebagai sekadar “sumber”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Untuk itu, jika kita mau sedikit mempertanyakan diri kita tentang perkataan yang sering kita dengar-ucapkan, maka rasanya hal ini tidak ada yang aneh apalagi menyimpang. Bukankah kita sering berkata, jika meminjam perkataanmu lagi, “Kita bertemu <b>karena</b> Allah dan berpisah <b>karena</b> Allah. Jika ia mencintaiku karena Alla, maka <b>cinta itu akan abadi</b>. Bagiku, Allah adalah <b>sumber cinta terbesar,</b> kita tidak akan miskin meski <b>mengemis</b> cinta-Nya” (huruf tebal dari Fauzi). Perkataan ini sering Fauzi dengar, terutama di pondok dulu dan kurang sering di kampus ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Namun, ada sesuatu yang agak menggelitik, menurut Fauzi, yaitu kata “karena Allah” (ini yang pertama). Apakah dalam hal ini berlaku hukum kausalitas, sebab-akibat, yang untuk itu pasti ada sebab terawal? Hal ini tentu terkait erat dengan pemaknaan kata “karena” yang mengandaikan adanya akibat dan beraroma ‘takdir’ yang berada di luar jangkuan manusia. Oleh, karena itu manusia tidak bisa mengontrol apalagi memberikan syarat untuk bisa, katakanlah, jatuh cinta pada seseorang manusia karena satu-iman, keturunan orang baik-baik, tampan-cantik, berpenghasilan, dan mungkin juga perlu ditambah cerdas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Orang-orang mengartikan “karena Allah” dengan menyamakannnya persis dengan beribadah dan berarti men-tuhan-kan Allah yang memang dari sananya <i>mah</i> Tuhan. Namun, menurut Fauzi, kata “karena Allah” berpemahaman bahwa di sini mengandaikan hukum <i>kausalitas dan usaha</i> seorang manusia, bukan semata-mata takdir. Dalam hukum kausalitas (dan usaha), sebab-akibat, kita mengandaikan bahwa jika kita mengerti tentang suatu sebab kita bisa (usaha) membuat akibat. Kita bisa membuat nasi (akibat) dengan memasaknya di atas api kompor (sebab) karena kita tahu api bisa membuat atau berakibat pada masaknya nasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Pun demikian tentang cinta. Kita mencintai (sebagai akibat) jika kita tahu penyebab-penyebab cinta, atau factor yang menyebabkan kita mencintai sesuatu. Namun sayang kita sering dikaburkan tentang sebab-sebab cinta. “Cinta adalah anugerah tuhan yang suci, cinta sejati adalah cinta yang datang dengan sendirinya” dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Kemudian, yang kedua, yang menggelitik pikiran kecil Fauzi adalah kata-kata “abadi” yang menyangkut sebentuk perasaan manusia. Dan sering kita dengar cinta yang paling sejati akan abadi sampai ke akhirat. Kata ini menurut fauzi terlalu angkuh dan arogan. Ia lupa kodratnya sebagai manusia naïf walaupun kelak ia akan masuk surga, semoga. Bukankah yang abadi dan memang Ia harus abadi adalah Tuhan semata. Ah… rasanya aneh juga kalau memikirkan tentang surga dan neraka yang katanya kekal juga manusia-manusia di dalamnya: berarti ada juga yang bakal kekal “menyamai-menyerupai” Tuhan dan itu dibuat oleh Tuhan sendir. Seakan-akan itu tidak “menyerupai” sifat tuhan karena manusia pernah banyi-kecil, remaja, dewasa, tua lalu dimatikan. Barang kali Fauzi salah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Lalu, yang ketiga, adalah kata-kata “mengemis”. Menurut Fauzi kata ini terlalu merendahkan Tuhan sebagai tuhan, seolah-olah Dia kikir-pelit memberikan cinta pada manusia. Jika benar Ia pelit, mumpung di Indonesia lagi zaman demokrasi dan marak demontrasi, rasanya perlu juga kita demo menuntut penurun-Nya sebagai tuhan dengan alasan Dia sangat pelit yang tidak pantas disandang oleh Tuhan. Fauzi pasti salah dalam hal ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Sepertinya tulisan ini semakin menjauh dari yang seharusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">3</span></b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Beberapa paragraf di atas, kalau disimpulkan, berbicara tentang criteria atau syarat yang sering diajukan oleh manusia, tidak peduli laki-laki atau perempuan. Yang pertama syarat yang diajukan oleh orang yang kurang mendunia (down to earth) menerawang yang mungkin lebih suka ketidakpastian amat sangat; yang kedua criteria yang dibuat oleh manusia yang sangat mendunia. Kedua-duanya memiliki kekurangan dan kelebihan, mungkin. Fauzi akan memberikan sedikit komentar atas criteria yang kedua―kamu, Fauzi harap, memberikan komentar atas criteria yang pertama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"><span> </span>Manusia sudah sedari dulu sering memberikan standar nilai tentang orang lain, terutama sekali terhadap orang yang bersangkut-paut dengan dirinya. Tidak ada yang aneh, dan siapapun boleh mengajukannya kepada siapapun. Maka tidak heran jika ‘dia’ masih sempat untuk meng-<i>cross-check</i> kriterianya terhadap orang “itu”. Dan memang hasil tidak sesuai dengan prasyarat yang diajukannya; hasil akhirnyapun sudah bisa diduga kemungkinan besar adalah tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Namun Fauzi (enaknya bukan kita) sering lupa terhadap diri sendiri bahwa orang lain juga mempunyai criteria atau prasyarat juga―dalam hal ini mungkin si cowok sudah menganggap kamu sudah memenuhi criteria dia. Namun dia lupa bahwa kamu juga memiliki prasyarat yang harus dia penuhi. Dalam posisi sama-sama kuat untuk mengajukan prasyarat, kita sering terlalu meninggikan diri tanpa melihat siapa diri ini. Namun bukan berarti kita harus menyerah untuk mendapatkan orang yang lebih jelek dari diri kita. Tidak sama sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Hanya saja sikap kitalah yang sedikit agak dipermasalahkan. Kita terkadang tidak memberikan posisi yang seimbang pada orang lain (bukan bermaksud kamu seharusnya meng-iya-kan tawarannya).</span></p>
<p><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">4</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dalam tulisan “Saat Cinta Dipertanyakan” terdapat beberapa rasa ketakutan yang disebabkan oleh beberapa pengalaman orang lain. Hal ini sangat wajar dan sebentuk kewaspadaan diri. Dengan itu berarti kamu sudah mulai memahai arti sebuah pengalaman yang dengan sendirinya akan membentuk benteng pertahanan diri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Namun jika terlalu membesar-besarkannya juga tidak baik. Karena terkadang kita terjebak dalam bersikap yakni kita bersikap appriori, bukan aposteriori. Dalam sikap appriori, bisa saja kita salah membuat kesimpulan karena yang kita tahu adalah akibat-akibatnya saja tanpa mendalam sebab-sebab. Yang jika kita memahami sebab-sebab dasarnya bisa saja sebenarnya fakta-fakta yang ada (akibat) itu disebabkan oleh hal-hal lain yang berbeda dari asumi kita semula. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Bisa juga kita terpengaruh oleh sikap terlalu menggeneralisir sesuatu; atau, terlalu menspesifikasi hal-hal yang terjadi pada individu bahwa sesuatu yang terjadi pada orang banyak bisa sangat mungkin terjadi pada diri kita. Pun demikian sebaliknya tanpa landaan yang kuat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">5</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Lalu, di manakah posisi Fauzi khusus? Ini pertanyaan serius dan mendesak untuk dicari jawabannya. Dan sayangnya Fauzi cuma ngomong: “No comments and I have no idea.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Garamond','serif';">*Surat balasan dari surat berjudul “Cinta Yang Dipertanyakan. “Ditembak: Kamu Mengelak atau Menolak?” merupakan judul tulisan ini, awalnya. Namun sepertinya kurang pas. Semoga malah tambah (tidak) membingungkanmu: sekadar tanggapan belaka dan karena itu jangan terlalu percaya bantahlah argument, asumsi, opini di dalamnya. Solo, Minggu, 25 November 25, 2007. Jam 02.00 dini hari setelah nonton Naruto, yang penuh dengan pertentangan dan paradoks-ambivalen.© M. Fauzi, jèlék.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.25in;" align="left">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ideografi.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ideografi.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ideografi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ideografi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ideografi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ideografi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ideografi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ideografi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ideografi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ideografi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ideografi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ideografi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ideografi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ideografi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ideografi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ideografi.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=11&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/cinta-yang-dipertanyakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f382fc6b601b25df24c3e4173888580d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ideografi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CINTA: ANTARA ANUGERAH TUHAN DAN SETAN</title>
		<link>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/cinta-antara-anugerah-tuhan-dan-setan/</link>
		<comments>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/cinta-antara-anugerah-tuhan-dan-setan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 04:46:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ideografi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eskpresi Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/cinta-antara-anugerah-tuhan-dan-setan/</guid>
		<description><![CDATA[Cinta adalah rekayasa setan untuk penyesatan atau lebih keras lagi, “CINTA ADALAH ANUGERAH SETAN”. Tidak percaya? Coba definisikan tentang praktek cinta, menurut anugerah tuhan, seperti apa? Setan selalu berusaha menyesatkan manusia dalam kompleksitas bentuk dan simbol. Kompleksitas bentuk dan simbol menjadikan manusia susah dan dibingungkan untuk mendefinisikan cinta, dan oleh karena itu susah untuk diaplikasikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=10&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:navy;">Cinta adalah rekayasa setan untuk penyesatan atau lebih keras lagi, <b>“CINTA ADALAH ANUGERAH SETAN”</b>. Tidak percaya? Coba definisikan tentang praktek cinta, menurut anugerah tuhan, seperti apa? Setan selalu berusaha menyesatkan manusia dalam kompleksitas bentuk dan simbol. Kompleksitas bentuk dan simbol menjadikan manusia susah dan dibingungkan untuk mendefinisikan cinta, dan oleh karena itu susah untuk diaplikasikan sesuai dengan “anugerah tuhan.” Tuhan dalam segala perintahnya selalu sederhana dan lugas. Lalu kenapa cinta susah untuk didefinisikan? Apakah puluhan psikolog, ilmuan, sastrawan dan bahkan agamawan, yang juga susah untuk mendefinisikan tidak cukup menjadi bukti? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:navy;">Freud mendefinikan semua itu (yang juga termasuk cinta:dorongan naluriah manusia) dalam tiga sistem kepribadian manusia: <i>Id, Ego</i> dan <i>Superego</i>. <i>Id</i> merupakan bagian-bagian kepribadian yang menyimpan dorongan biologis- pusat instink (hawa nafsu— dalam agama). Ada dua instink dominan: (1) <i>Libido</i>—instink reproduksi yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan manusia yang konstruktif; (2) <i>Thanatos</i>—instink destruktif dan agresif. Yang pertama –<i>libido</i>-disebut unsur instink kehidupan (<i>eros</i>), yang dalam konsep freud tidak hanya pada meliputi dorongan seksual, pemujaan pada tuhan, dan cinta pada diri (narcisism). Sedangkan yang kedua—<i>thanatos</i> adalah instink kematian. <i>Id </i>bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (<i>pleasure principle</i>) dan bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Dia menjadikan manusia sebagai hewan murni. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:navy;">Ini adalah kunci AS (baca: Asasi Setan) yang digunakan oleh setan. Setan akan selalu merekayasa bentuk-bentuk <i>Id</i>, terutama dalam praktek-praktek cinta. Praktek bisa berupa <i>petting</i>, onani dengan ‘Yang’ bahkan berupa <i>premarital sex </i>(sek pranikah) dengan segala stylenya; putus cinta, cinta pun dengan mudah akan datang, karena ia adalah bentuk <i>libido</i>. Cinta yang seperti itu bukan cinta sesama manusia tapi cinta sama dengan hewan: sebuah distorsi akan makna anugerah itu sendiri. Apakah ini yang kalian namakan sebuah anugrah tuhan? Apa itu anugerah tuhan, jika bentuknya tidak ada bedanya dengan<span>  </span>anugerah hewani/anugerah setan? Tunjukkan cinta yang kalian kata “suci dan anugerah tuhan” dan aku akan mengikutinya dengan kebulatan hati, jika memang ada!<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:navy;">Ego</span></i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:navy;"> akan menjempati dorongan <i>Id.</i> Dia menjadi subsistem atau secara sederhana sebagai mediator dari <i>Id,</i> yang menjembatani dorong nafsu dalam kehidupan/realitas. Anda akan mengukur diri ketika <i>Id</i> menjebak Anda pada seorang cewek (jatuh cinta, jika menggunakan kata-kata Anda). Jika Anda—maaf—punya muka pas-pas maka kemungkinan besar Anda, dengan segala pertimbngan <i>ego</i>, akan menarik diri untuk mengatakan secara langsung, dan beralih pada PDKT yang lain seperti melirik tapi membawa hati dalam pandangan sambil berkata, “I love you,” bisa juga,<span>   </span>minimal Anda pasti akan mengatakan dalam hati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:navy;">Dan terakhir, <i>superego</i> adalah polisi kepribadian. <i>Superego</i> akan mewakili diri Anda dalam keidealan hidup atau bisa dikatan sebagai hati nurani yang meruapakan pengejawantahan pribadi dari norma sosial-agama dan kultural masyarakat. <i>Superego</i> akan berkata pada Anda, saat Anda sedang berada di area <b>HOTSPOT</b> dengan si Yang, saat Anda akan melanggar batas maksimal dari norma sosial-agama dan kultural masyarakat, dengan lirih sekali berkata, “Jangan sampai ke daerah hotspot, ‘gak boleh, loo!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:navy;">Tapi manusia adalah produk dari sebuah kebiasaan (<i>habits make you</i>) dan manusia penemu (<i>inventive man</i>). Saat Anda dan Yang sudah biasa melakukan hal yang kecil, maka Anda akan mahir dan merasa bosan dengan hal tersebut sehingga <i>Id:Libido</i> dan <i>Thanakos</i> akan mendorong Anda untuk menjelajahi ruang-ruang baru yang jauh lebih liar dan fantastis. Hal akan membentuk kebiasaan baru dalam kehidupanAnda. Inilah yang selalu menjadi senjata pamungkas setan dalam menjerumuskan Anda dalam perangka <b>ANUREGAH SETAN</b>, yang sayangnya, Anda anggap sebagai sebuah kesucian dan anugerah tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:navy;">In conclusion, cinta bukan sekedar permasalahan tarik ulur antara kepentingan pribadi dan organisasi, profesionalisme. Tapi sudah menukik pada masalah kesehatan mental hati-diri kita. Percayakah Anda? <span> </span>&#8212;Fa, 3 April 2007, Kentingan pukul 14.35.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ideografi.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ideografi.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ideografi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ideografi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ideografi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ideografi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ideografi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ideografi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ideografi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ideografi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ideografi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ideografi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ideografi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ideografi.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ideografi.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ideografi.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=10&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/cinta-antara-anugerah-tuhan-dan-setan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f382fc6b601b25df24c3e4173888580d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ideografi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BANGUN TIDUR DARI KETAKUTAN</title>
		<link>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/bangun-tidur-dari-ketakutan/</link>
		<comments>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/bangun-tidur-dari-ketakutan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 04:42:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ideografi</dc:creator>
				<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/bangun-tidur-dari-ketakutan/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap hari kita bangun dan tidur, dan seperti itu gambaran hidup kita. Terkadang kita tidur dengan iringan doa harapan; dan sering kita tidur dengan keberanian untuk menantang kegelapan; dan saat bangun matahari menanti kita dengan sinar putihnya. Hidup seakan berada dalam dua dunia: dunia putih dan dunia hitam. Saat harapan meletakkan jiwa-raga kita di dunia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=9&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">Setiap hari kita bangun dan tidur, dan seperti itu gambaran hidup kita. Terkadang kita tidur dengan iringan doa harapan; dan sering kita tidur dengan keberanian untuk menantang kegelapan; dan saat bangun matahari menanti kita dengan sinar putihnya. Hidup seakan berada dalam dua dunia: dunia putih dan dunia hitam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">Saat harapan meletakkan jiwa-raga kita di dunia putih, petualangan hari- menjadi begitu semangat, antusias dan terkadang canda ria mewarnai seluruh bagian hari kita. Saat itu mungkin kita bersama orang yang kita ‘kasihi,’ berada di taman surga cinta, dengan mawar kehidupan yang mengharumi bagian jiwa kita. Kita terbang bersama harapan dan harapan begitu indah nan menawan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">“Saat ini seorang permaisuri dan raja sedang mencemburui kita, Sayang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">“Mereka tidak cukup punya kemegahan dunia untuk menandingi-kemewahan dunia harapan kita. Mereka akan membongkar semua istana kerajaan dan tempat pemandiannya, jika mereka tahu kita punya istana yang jauh melebihi kemegahan istana raja-raja.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">“Sulaiman, raja maha raja, konon sangat murka tatkala melihat dua orang sedang bercinta di taman surga Dia cemburu pada pasangan itu. Pun demikian kita saat ini sedang dicemburui”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">Percayakah engkau pada percakapan dua manusia tersebut? Mungkin engkau akan bertanya, dunia putih itu apa? Lalu taman surga itu di mana? Terus dunia harapan, itu juga apa? Bagi sebagian orang, itu semua, juga surga yang tiada tanding keindahannya, merupakan dunia yang diciptakan oleh manusia. Dunia itu berada dalam sisi kehidupan manusia, saat manusia mulia tertusuk oleh kejamnya kehidupan dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">Seorang sastrawan akan membuat sebuah cerita untuk hatinya. Mark Twin akan membuat novel “<i>Adam and Hawa</i>”; William Shakespear menggubah “<i>Romeo and Juliet</i>,” ada juga “<i>Layla Majnun</i>,” “<i>Cleopatra</i>” bahkan Soejarwo membuat “<i>Ada Apa dengan Cinta</i>?” Semuanya merupakan wajah dunia ciptaaan manusia. Pun surga bagi mereka tidak pernah ada. Mereka akan bertanya pada Anda yang mengatakan bahwa surga itu ada: Pernahkah Anda melihat surga dengan kedua mata Anda? Bahkan nabi dan rasul yang membawa istilah surga tidak banyak yang mengatakan pernah pergi dan menghuni surga! </span><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">Lalu dari mana Anda mengatakan bahwa surga itu indah dan benar-benar ada?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">Surga dan nama-nama tempat yang indah lainnya Cuma pernah ada dan tercipta dalam kenangan indah pengalaman<span>  </span>jiwa manusia. Ia tidak pernah benar benar ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">Tidur membawa kita pada dunia hitam, dunia yang penuh dengan kekerasan dan ketakutan. Kegelapan selalu menghiasi bagian kehidupan ini. Walau kita berpayah menyalakan lentera kehidupan dalam dunia ini, kegelapan selalu menghiasi kehidupan ini. Bukan dunia tersebut yang gelap tapi karena kita menutup mata kita untuk bisa menyelami dunia ini. Kita harus menutup mata dan kesadaran kita untuk masuk ke dalam. Tanpa itu kita tidak bisa masuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">Tidak mengherankan jika Anda tidak mempunyai pengetahuan tentang dunia yang Anda alami di dunia hitam. Tapi terkadang kita menangkap beberapa gambar. Dan orang menamainya mimpi. Mimpi sendiri tidak banyak orang yang tahu, hanya mereka yang mentasbihkan diri sebagai penafsir mimpi- yang mampu membaca mimpi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">Saat saya, mungkin Anda juga, bangun tadi padi tidak ada yang saya tahu tentang apa yang telah terjadi dalam dunia tidurku. Betapa bodohnya kita saat tidur dalam kegelapan. Kita mungkin sudah menjadi seorang pelajar ulung bahkan tingkatan profesor tapi tetap saja kita tidak punya pengetahuan dan kendali terhadap tidur kita. Saat itu dunia hitam seakan menjadi kewajiban hidup dan juga sekaligus kebodohan hidup. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">So</span></i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">, ketakutan dan keberanian seolah-olah menjadi bagian dua sisi mata uang yang dua-duanya wajib ada dan bersamaan. Saat saya menulis ini dan Anda membacanya, saat itu kita &#8220;bangun tidur dari kegelapan.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:blue;font-weight:normal;">Percayakah Anda???—ditulis oleh Z, 13 Mei 2007, 11.00 WIB.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ideografi.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ideografi.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ideografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ideografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ideografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ideografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ideografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ideografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ideografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ideografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ideografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ideografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ideografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ideografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ideografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ideografi.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=9&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/bangun-tidur-dari-ketakutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f382fc6b601b25df24c3e4173888580d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ideografi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Angka Nasib</title>
		<link>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/angka-nasib/</link>
		<comments>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/angka-nasib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 04:37:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ideografi</dc:creator>
				<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ideografi.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[“Dunia ini sebenarnya diciptakan berdasarkan kekuatan angka-angka” Phytagoras Secarik lembaran menakuti aku. Isinya mulai dari beberapa huruf sampai angka-angka yang sulit aku mengerti. Namun dia mampu mengusik aku yang lemah, naif dan malas. Menurut orang awam, akademisi, ilmuan yang ilmiah sampai dukun yang klenik, nasib aku di masa depan―juga beribu-ribu teman senasib-seperjuangan aku― sangat tergantung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=8&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"><b>“Dunia ini sebenarnya diciptakan berdasarkan kekuatan angka-angka”</b></span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Phytagoras</span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Secarik lembaran menakuti aku. Isinya mulai dari beberapa huruf sampai angka-angka yang sulit aku mengerti. Namun dia mampu mengusik aku yang lemah, naif dan malas. Menurut orang awam, akademisi, ilmuan yang ilmiah sampai dukun yang klenik, nasib aku di masa depan―juga beribu-ribu teman senasib-seperjuangan aku― sangat tergantung dan ditentukan oleh angka-angka itu. Semua percaya itu. Angka-angka itu mulai dari cuma angka nol sampai yang tertinggi empat. Banyak orang yang mengejar angka empat. Aku tidak tahu kenapa angka itu yang dijadikan angka tertinggi dan diperebutkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Sejarah angka telah melahirkan seorang filsuf angka/matematik kaliber dunia seperti Pythagoras. Sedangkan di daerah gurun pasir Arabia yang dihuni orang primitive, angka cuma sampai tujuh. Pada jaman modern orang lebih mengenal angka sebagai sesuatu yang tidak terbatas. Bahkan manusia modern tidak cukup punya nama jika angka itu di perpanjang. Seakan semua masuk dalam teori relativitas Einstein secara natural. Namun bisakah angka melahirkan<span>  </span>tafsiran masa depan secara realistis?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Aku tidak begitu percaya jika tuhan menentukan nasib aku di atas rentetan angka. Memang tuhan terkadang memerintahkan hambanya, kalau orang Islam maka Dia memerintahkan pada mereka untuk menjalankan sholat lima waktu; dalam rakaat sholat ada yang menunjukkan angka empat sampai dua. Aku tidak pernah tahu kenapa dengan angka-angka itu. Aku tidak terlalu mempertanyakan. Apalagi mengajukan hak interpretasi karena kata para ilmuan agama, itu hak prerogatif tuhan bukan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Tapi bagaimana jika manusia ikut-ikutan memegang hak prerogatif tuhan? Berhakkah manusia yang untuk kelahirannya saja tidak bisa menentukan dari rahim ibu siapa dia akan muncul melihat dunia pertama kali? Tapi hidup penuh dengan saling mengklaim. Semua dengan penuh klaim kebenaran. Semua seakan berjalan di atas rel kebenaran. Lalu kenapa mereka sangat percaya dengan seonggok angka-angka? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Angka mitos dan angka pasti</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Angka itu pasti. Begitu guru matematika aku dulu, saat menjalaskan pelajaran menghitung. Angka itu mitos dan ilusi. Begitu kata aku saat merenungkan angka sebagai representasi dan tafsiran nasib masa depan aku. Masa depan dengan segala kegelapan dan ketidakpastiannya adalah ilusi. Dia bukan tambahan, perkalian, pengurangan ataupun pembagian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Lebih jauh angka bukan masa depan. Dan juga angka bukan teleskop futurologistis yang bisa menerawang ke alam masa depan. Mereka yang percaya berargumen dengan realitas masa kini bahwa angka-angka itu sebuah cermin diri: perilaku, prestasi, gengsi, bahkan keburukan, kenakalan lebih jauh kenaifan. Mereka berasumsi bahwa sekarang adalah cerminan masa depan. Aku pun berargumentasi: tapi bukankah setiap cermin selalu memutar-balikkan realitas pantulannya. Tangan kanan berganti tangan kiri. Dia tidak pernah bisa memantulkan realitas horisontal. Dia hanya bisa memantulkan realitas bayangan vertical dalam kekekalan horizontal. Jika dilihat secara seksama pantulan cermin sebenarnya adalah pseudo-reality, realitas palsu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Metamorfosis angka</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Angka itu multi-rupawan. Dia bisa mengubah diri menjadi jabatan tinggi, lembaran rupiah, kekuasaan, keagungan dan sebagainya. Mungkin Pythagoras tidak bisa membayangkan tentang evolusi angka seperti yang terjadi sekarang. Angka begitu keramat, sakti dan <i>unpredictable</i>. Semua tersihir oleh angka lebih dari seorang matematikawan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Sekedar contoh kecil, keponakan aku, anak TK menadapatkan hadiah yang tidak terbayangkan oleh hayalan imajinatif anak kecil, boneka Barbie yang berpakian manusia modern. Padahal anak kecil selalu menirukan orang tuanya tentang anak kecil, tapi kali ini tidak. Boneka tersebut begitu dewasa melebihi si empu yang akan dia jadikan idola panutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Saat aku bertanya pada ibu anak tersebut, apakah angka itu sangat menentukan masa depannya? Dia menjawab dengan rasa ragu dan sedikit tawa. Sekali lagi saya ajukan pertanyaan sama untuk mendapatkan jawaban yang pasti. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan saya, namun jawabnya kemudian, “Dengan anak saya senang, itu sudah cukup.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Topeng angka</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Seorang cerdik-pandai tidak akan bisa memastikan masa depan berdasarkan angka-angka atau nomorologi: ilmu yang digunakn untuk meramal keberuntungan atau kesialan seseorang berdasarkan angka. Bahkan Daniel Golemann menyatakan dalam bukunya yang fenomenal, <i>Emotional Intelligence</i>, bahwa angka-angka yang disandang oleh para penuntut ilmu di universitas unggulan cuma beperan 10 % dalam penentuan keberhasilan masa depan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Kenapa banyak orang yang mengandalkan angka sebagai tolok ukur keberhasilan masa depan? Apakah benar kita kembali pada jaman nenek moyang kita, dimana dalam menentukan kegiatan atau aktivitas selalu berpatokan pada angka-angka terutama angka ganjil. Mungkin kehidupan semakin ganjil. Aku kuatir semua itu cuma topeng penghibur. Topeng yang akan mengaburkan wajah aku yang sebenarnya. Wajah aku yang jelak sangat tidak diharapkan ditutupi oleh topeng dusta. Biarlah wajah ini apa adanya, <i>real face.</i> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Aku cuma manusia yang ingin “aku berfikir maka aku ada” atau aku berkarya maka aku berjaya setidaknya untuk ukuran yang aku mampu. Mungkin Pythagoras benar. Bisa juga salah, namanya juga manusia. Aku juga manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:'Garamond','serif';"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:'Garamond','serif';"> &#8211;tulisan apologis saat menerima KHS<br />
</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ideografi.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ideografi.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ideografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ideografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ideografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ideografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ideografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ideografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ideografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ideografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ideografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ideografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ideografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ideografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ideografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ideografi.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=8&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/angka-nasib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f382fc6b601b25df24c3e4173888580d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ideografi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kamu, Aku, dan Buku*</title>
		<link>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/kamu-aku-dan-buku/</link>
		<comments>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/kamu-aku-dan-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 04:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ideografi</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ideografi.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[“Buku yang dibaca seseorang adalah simbol gejolak pikiran dan hatinya” (Fauzi jélék) “As usual… menelan pil pahit kekecewaan,” begitu engkau menjawab, saat aku menyinggung jawaban yang kamu berikan (“whenever…whatever…”) atas pertanyaanku (mau kemana dan mau ngapain?). Jawaban dua kata bahasa Inggris yang terakhir itu mengandung unsur keputusasaan, kegalauan, kemarahan dan kekecewaan. Manusia yang mengalaminya sama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=7&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><b><i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">“Buku yang dibaca seseorang adalah simbol gejolak pikiran dan hatinya”</span></i></b><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">(Fauzi <i>jélék</i>)</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">“<i>As usual</i>… menelan pil pahit kekecewaan,” begitu engkau menjawab, saat aku menyinggung jawaban yang kamu berikan (“whenever…whatever…”) atas pertanyaanku (mau kemana dan mau ngapain?). Jawaban dua kata bahasa Inggris yang terakhir itu mengandung unsur keputusasaan, kegalauan, kemarahan dan kekecewaan. Manusia yang mengalaminya sama akan halnya seekor burung merak yang terperangkap dalam sangkar kehidupan. Sebentuk sangkar kehidupan yang mematikan jiwa-jiwa kemanusiaan kamu (?) dan aku. Saat itu mendera jalan kehidupan anak manusia, maka saat itu “yang kau lihat ini hanya tubuhku, bukan tubuh sekalian dengan jiwa.”</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;" align="left"><b><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Sayap Jiwa</span></b><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Adakah yang lebih menjajah anak manusia jika dibandingkan dengan sebuah sangkar kecil yang mematahkan sayap-sayap jiwanya? Sayap-sayap jiwa manusia merupakan kehidupan yang penuh dengan secercah harapan. Secercah harapan yang akan membawanya terbang keangkasa surga dua dunia: (1) surga bumi yang penuh nyanyian riang dengan iringan musik melodi, yang penuh dengan arti kehidupan dan surga ukhrowi di mana setiap manusia akan meneguk anggur manis dari cawan emas berukir-hiaskan permata. Surga dua dunia itu tidak akan pernah ada meski dalam kehidupan hayal, jika sayap-sayap jiwa telah dirontokkan bulu-bulunya yang anggun nan menawan oleh sangkar kecil kehidupan, jiwa nestapa.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Sangkar kecil kehidupan memang tidak terpasang di dalam tubuh ragawi kita. Tapi dia selalu menawan jiwa kita yang penuh dengan kebebasan dan keindahan hidup. Mungkin itulah sebabnya kenapa jiwa-jiwa ini selalu dalam kepungannya. Dia tidak pernah menampakkan bentuk konkretnya untuk kamu dan aku hancur-leburkan. Dia selalu menjadi pil pahit kehidupan yang dengan terpaksa kamu dan aku telan. Lalu, siapa yang dengan tega-nesta membuat sangkar pengkerdil jiwa-jiwa anak manusia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"><br />
<b>Serpihan Jiwa</b></span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dia bisa sebentuk sosok manusia, bisa juga hanya pikirannya atau boleh jadi sebuah situasi-kondisi. Tapi dalam kehidupanmu, kamu mengidentifikasi “dia” sebagai “seseorang…dan saya tak pernah berharap untuk menelannya [baca:pil pahit].” Dan jika itu adalah sesosok pikiran dan sebentuk situasi-kondisi, maka pil itu merasuki kehidupan jiwa kita karena kita adalah makhluk yang terikat oleh waktu. Waktu itu menyimpan erat situasi-kondisi jiwa kita yang membentuk kejadian-kejadian di jiwa dengan segala bentuknya.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Saat-saat itu adalah saat jiwa kita berkata, “ universally, I’m hopeless (bahasamu) and universally I’m loneliness (bahasaku).” Jiwa-jiwamu saling sahut-sahutan, berputar antara kegelisahan, ketakutan, kegetiran dan keputusasaan. Semua berputar dalam roda setan kehidupan, menjelajahi lorong gelap kehidupan aku dan mngkin kamu. Kala itu kamu berkata, “it’s true that my surronding is empty…because, I’m hopeless, surrender, despreate…a lot of..” Saat aku, dan kamu mungkin, sedang menjalani sebentuk kehidupan seperti itu maka tidak ada kata yang mampu merepresentasikan bentuk-bentuk gejolak-kegelisahan jiwa. Baik itu jiwamu. Begitupun jiwaku.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;" align="left"><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dan jiwa-jiwa ini menjadi serpihan-serpihan kecil yang tertiup angin Sahara. Entah kemana arah angina membawanya. Entah sampai kapan akan berhenti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;" align="left"><b><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Buku Jiwa</span></b><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Taatkala semua sepi dan meratapi, maka aku (mungkin kamu juga, tapi saya berharap tidak) seperti lembaran-lembaran yang penuh coretan tanpa arti dan makna. Ya, coretan tentang kehidupan hitam yang membentuk sebuah buku dengan coretan mantra-mantra setan. Mantra setan yang selalu menakuti jiwa-jiwa ini. Kala itu benar-benar menakutimu, maka kamu akan mengkataiku, “ yang aku takutkan cuma terasingan akan diri sendiri.” </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dan saat-saat itu menakutiku, aku berkata, “aku tidak cuma takut akan keterasingan diri tapi bahkan ketakutan dan kesendirian telah mematikan diri ini. Fauzi sejatinya telah mati. Mati dalam kemiskinan akan arti diri. Sungguh malang Fauzi itu.” Dan itu sebentuk coretan ekspresi jiwa ini. Dia tertulis dalam lembaran-lembaran jiwa yang mati ini. Mati tanpa pernah merasakan keindahan sebentuk harapan.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dan lembaran demi lembaran, yang aku sendiri tidak tahu, aku bertanya mengapa begitu penuhnya coretan itu dalam seluruh lembaran sejarah kehidupanku. Sehingga sering kali jiwa ini memberontak dan setidaknya bertanya lirih, “adakah selembar kertas sisa yang bisa aku gambar dan aku tulisi dengan kata-kataku sendiri?” Dan kalau memang kertas itu masih ada maka aku akan menulis, minimal untuk menjadi oase bagi kedahagaan jiwa-jiwaku <b>“<i>HARGAI DAN MAKNAI HIDUPMU, DENGAN SESUNGGUHNYA PENGHARGAAN DAN PEMAKNAAN AKAN KEHIDUPAN.</i>”</b> </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dan tulisan tersebut akan aku letakkan pada halaman pertama. Kalau perlu dan mendesak akan aku buat kata-kata itu sebagai cover. Cover dalam setiap buku adalah bermanfaat untuk melindungi isi sebuah buku. Namun jika dalam hidupku semua lembaran dalam buku kehidupanku sudah terpenuhi dengan coretan-coretan setan, dengan segala mantranya, maka dengan amat sangat aku berharap ia, sang cover, menjadi bagian penutup dalam lembaran terakhir buku kehidupanku. Ya, lembaran terakhir dari hidupku. Dan ya, menjadi cover bagian belakang untuk buku kehidupanku. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Selembar Jiwa</span></b><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Masih adakah lembaran sisa itu untukku, tuhan? Hanya selembar untuk jiwaku, tidak kurang tidak lebih, masihkah? Jika memang itu ada, sebagaimana matahari akan terbit esok pagi menyinari kehidupan bumi, maka kapankah aku boleh menggambar dan menulisnya? Saat aku terlepas dari sangkar kecil kehidupan? Adakah? Kapan?</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Namun bagi kamu, dengan sangat saya berharap pada tuhan bahwa kamu masih memilki seribu lebih lembaran-lembaran kosong, untuk kamu menggambar dan menulis tentang keindahan warna-warni kehidupan. Ya, seribu lembar lebih. Dan aku berharap, dalam tulisan-tulisanmu, tidak akan pernah sehurufpun menyatakan tentang warna rona kehidupanku.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Karena, “saya berharap sangat, ‘seseorang’ itu —dialah yang telah menyakitimu— adalah aku, Fauzi. Aku semakin takut untuk ‘bergaul’ dengan Anda. Aku, dalam hidupku sekarang, sedang membawa obor dengan api hitam. Aku takut obor itu akan membakar tidak hanya aku tapi juga Anda yang terhormat.” Saat itu aku takut lembaran, yang aku berharap pada tuhan untuk mu, akan terbakar hangus dan habis. Menjadi abu hitam, sehitam warna kehidupanku yang sekarang. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Kamu jangan lagi berkata, “kenapa mesti takut? Seseorang itu bukan kamu…tapi dia.” Karena wangi dan busuknya kehidupan seseorang akan mewangi dan membusuki alam sekitarnya, sebagaimana orang akan menjadi wangi jika bergaul-berkumpul (berteman) dengan penjual minyak wangi. Demikian juga dengan kamu dan aku. Tahukah kamu, aku sangat berharap kamu menuliskan kewangian kehidupanmu dengan segala variasinya. Semoga. Amin ya rabbal alamin. </span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dan begitulah aku sedang membaca buku sejarah kehidupanku sendiri. Buku sejarah yang penuh simbol gejolak pikiran dan hati. Dalam kesendirian.</span><span style="font-size:12pt;font-family:'Arial','sans-serif';"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Arial','sans-serif';"> </span></p>
<div>*</p>
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:8pt;font-family:Symbol;color:windowtext;font-weight:normal;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:8pt;font-family:'Garamond','serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Ditulis oleh Mohammad Fauzi saat kencangnya angin malam menderu jendela-jendela kamar. Sang angin malam seolah-olah ingin berpacu dengan lagu yang disenandungkan oleh GARASI. Lagu itu berjudul HILANG. Saat itu terbesit pertanyaan dalam jiwa matiku, mengikuti alunan liriknya band Garasi, apakah “semua telah menghilang. Tak berarti. Tak kembali”? Dan berakhirlah tulisan ini pada jam 09.17 malam WIB. Hari Rabu, tanggal 13 Juni 2007, beriringan dengan berakhirnya lagu HILANG.<span>  </span></span></p>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ideografi.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ideografi.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ideografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ideografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ideografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ideografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ideografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ideografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ideografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ideografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ideografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ideografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ideografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ideografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ideografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ideografi.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=7&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/kamu-aku-dan-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f382fc6b601b25df24c3e4173888580d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ideografi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>…dan Aku Ingin Berjuang!</title>
		<link>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/%e2%80%a6dan-aku-ingin-berjuang/</link>
		<comments>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/%e2%80%a6dan-aku-ingin-berjuang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 04:29:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ideografi</dc:creator>
				<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/%e2%80%a6dan-aku-ingin-berjuang/</guid>
		<description><![CDATA[Kata-kata ini: ketidakadilan, penindasan, kesewenang-wenangan, kebodohan, kebobrokan, penyelewengan…adalah kata-kata yang sering aku dengar dari dulu. Sejak kecil. Dan setiap itu pula, ada dorongan energi yang menyembul kuat dalam setiap syaraf ini, untuk berjuang. Berjuang. Setiap nadanya selalu saja membawa diri ini pada keresahan jiwa, yang darinya memancar kekuatan perjuangan. Dan rasanya bukan Cuma aku. Ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=6&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Kata-kata ini: ketidakadilan, penindasan, kesewenang-wenangan, kebodohan, kebobrokan, penyelewengan…adalah kata-kata yang sering aku dengar dari dulu. Sejak kecil. Dan setiap itu pula, ada dorongan energi yang menyembul kuat dalam setiap syaraf ini, untuk berjuang. Berjuang. Setiap nadanya selalu saja membawa diri ini pada keresahan jiwa, yang darinya memancar kekuatan perjuangan. Dan rasanya bukan Cuma aku. Ini adalah kata yang universal, walaupun tidak selesai didefinisikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Tanya pada sejarawan: dunia sebagaian besar digerakkan oleh Orang-orang Besar (Great Historical Force); dan tidak ada yang berani menggerakkan orang-orang ini kecuali kata-kata tersebut, yang tergambar jelas dalam kehidupan masyarakat mereka. Sastrawan memang masih terus berdebat masalah kata-yang-menggerakkan, namun bukan dalam arti bahwa kata-kata itu kosong, tidak menggerakkan, namun lebih pada keindahan kata, setidaknya menurut aku. Kesimpulan mereka: perjuangan berhenti pada kata. Lantas, sastrawan, ataukah pejuang, sang penegak dan pembuatnya. Tidak ada yang salah dalam posisi keduanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"><span> </span>Peduli setan alas dengan semua itu: aku masih lemah yang mencari tenaga, sesuatu yang diperjuangkan, dengan sungguh. Apakah aku salah masuk zaman, yang seharusnya aku cukup bersenang tanpa perlu musuh kolonialisme, kapitalis-setan, dictator, teroris, atau yang lebih kecil, koruptor kelas kelurahan? Ah, sepertinya itu masih terlalu besar. Atau, bukankah itu terlalu kecil? Dan yang begitu besar adalah dirimu sendiri? Egomu, kebodohanmu, penyelewenganmu, kesesatanmu, bahkan “kekafiran-kemurtadan”-mu? Kurang besar apanya semua itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Ah, itu kan tidak nyata dan abstrak: bukankah selama ini teman-temanmu di kelas selalu menganggapmu orang yang “pintar” bahkan “cerdas”? Itukan yang selalu mereka dengungkan pada mu? Lantaran kesenangan anehmu, pergi ke kampus dan wajib ke perpus, setiap hari? Apakah ini penipuan cerdas ala detektif dan juga mafia, dan intel? Atau, inilah kebodohan yang tak tersadarkan dalam diri ini? Memang begitulah, yang tampak pada diri ini. <span style="color:black;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Setiap detik jarum jam bergerak, diri ini mulai tersisih, jauh tetinggal di belakang detak-detaknya yang terkadang terdengar sayup sunyi di telinga ini. Jiwa dan otakku mulai diseret-seret ke jurang ketidakberartian, mengerikan. Akupun sunyi dalam diri dan tidak berarti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"><span> </span>Di ujung semua itu: jangan pernah kau tanya: Kapan kau akan insaf, sadar diri, taubat? Cukup dengan kesombongan kecilku akan dijawab: jangan ceramahi aku dengan petuah kuno-bangkamu itu! Dan aku bertanya seraya membalikkan keadaan, dengan keyakinan penuh, “Bukankah aku selama ini berjuang membekuk peraturanmu yang kau anggap suci, yang kau anggap maha kebenaran, namun yang tidak manusiawi itu? Visi-misiku di dunia ini Cuma ada satu: membakar hangus segala yang engkau coba tanam dalam kedirianku, dalam pendidikan mu; aku akan terus menggugat. Namun entah pada siapa kata ini terlontar. Jangan-jangan itu adalah pada diri ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dari ujung Fakultas, di pojok Jurusan, dengan selembar kertas kebenarannya, seseorang berkata, “Dengan bukti apa engkau berkata sedemikian angkuhnya di bumi kami? Tidak cukupkah sederet angka kelakuanmu (otak, emosi, raga, maksudnya) ini membuktikan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">“Tidak adakah secuil bukti selain angka-angka yang kau buat tergopoh-gopoh ini? Bukankah itu barang kualitatif yang kau kuantitatifkan dengan pemerkosaan atas nilai-nilai dirimu dan tempat kamu berlindung diri?” Demikian sang aku membela diri, sekali lagi mendemontrasikan kepintaran yang dungu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">“Kapan kau akan menyerah, heh?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">“Kau salah masuk zaman. Cepat balik sana ke zamanmu nan di ujung waktu yang sudah lama lewat!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Dan aku terbingung-bingung oleh diri ini, pun dengan waktu, ditambah mereka. Aku sudah terkalahkan oleh diri ini, zaman ini, manusia zaman ini… Seharusnya aku berkata dengan lantang: “Tai kucing semua perjuangan! Itu adalah ide murahan yang dicoba suntikkan oleh para hedonis-idolator hiroisme altruisme busuk!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:27pt;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:27pt;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:27pt;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Selepas hujan malam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:27pt;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';">Surakarta, 9 February, 2008. Pukul 22.30 WIB</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ideografi.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ideografi.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ideografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ideografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ideografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ideografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ideografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ideografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ideografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ideografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ideografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ideografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ideografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ideografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ideografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ideografi.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=6&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/%e2%80%a6dan-aku-ingin-berjuang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f382fc6b601b25df24c3e4173888580d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ideografi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Warna Kehidupan</title>
		<link>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/warna-kehidupan/</link>
		<comments>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/warna-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 04:26:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ideografi</dc:creator>
				<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/warna-kehidupan/</guid>
		<description><![CDATA[Surakarta, 15.00 WIB Hari Selasa untuk kita berdua F n D. Mencari makna kehidupan dalam kekurangan dan kegelisahan. Mungkin itu bisa menjadi sebuah simpulan dari pertemuan kita. Sebuah pertemuan yang begitu ‘intim’, secara emosional dan rasional. Emosional, karena kita bisa menumpahkan seluruh sisi kehidupan gelap kita. Kita sadar bahwa hidup tidak putih atau hitam saja. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=5&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Surakarta, 15.00 WIB</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Hari Selasa untuk kita berdua F n D.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Mencari makna kehidupan dalam kekurangan dan kegelisahan. Mungkin itu bisa menjadi sebuah simpulan dari pertemuan kita. Sebuah pertemuan yang begitu ‘intim’, secara emosional dan rasional. Emosional, karena kita bisa menumpahkan seluruh sisi kehidupan gelap kita. Kita sadar bahwa hidup tidak putih atau hitam saja. Dia begitu penuh dengan warna, selayak pelangi. Pelangi yang menghiasi cakrawala pengalaman diri. Terkadang berwarna putih, biru, merah dan bisa juga hitam pekat dan sebagainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Tidak ada yang salah dari warna-warni kehidupan. Seorang pelukis akan marah sama tuhan jika dunia cuma berisi dua warna: hitam dan putih. Seorang Fauzi juga akan benci sama tuhan jika warna kehidupanku hanya hitam dan putih. Warna kehidupan itu pelangi, maka dari itu aku suka kehidupanku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Dalam hidupku, aku tidak pernah memfokuskan keinginanku untuk terpaku pada satu warna kehidupan. Hitam saja. Hanya putih bening. Tidak. Warna kehidupanku sebanyak warna pelangi bahkan sering campuran dari berbagai warna pelangi. Maka tidak pernah aku bosan melihat kehidupan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Satu waktu, warna kehidupanku putih. Semua yang aku lihat, rasa, semuanya, bermaura pada satu warna, putih. Semuanya seakan menyinari diriku. Aku seakan matahari yang terbit dari timur dalam kehidupanku dan bahkan orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Saat lain, aku terperosok ke dalam jurang hitam kehidupan. Saat itu aku tidak bisa mengenali kehidupanku. Aku adalah hitam petang yang tidak tercerahkan oleh warna putih. Saat itu datang dalam kehidupanku, aku terbiasa mengalirkan seluruh warna hitam emosiku. Aku mengisi seluruh waktuku, seluruh aktivitasku, dan seluruh jiwa-ragaku dengan hitam kehidupan. Aku mengutuk diriku, kehidupanku dan bahkan tuhanku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Waktu-waktu tertentu aku begitu berpelangi dalam hidup. Satu jam merah, satu jam lagi putih, berikutnya hitam, ungu, berganti biru, kuning dan seterusnya. Saya tidak tahu siapa yang melukiskan warna kehidupanku. Terlalu banyak yang menjadi pelukis dalam kehidupanku. Terkadang aku sendiri menjadi pelukis, ibu-bapakku, temenku, dosenku, kamu dan bahkan ayam tetangga. Begitu banyak pelukis. Begitu banyak warna. Begitu banyak corak. Dan semuanya sering begitu berarti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Begitu rasional. Rasionalitasku mungkin tidak serasional para filsuf, ilmuan atau akademisi. Rasionalitas itu bertingkat, sejalan dengan tingkat kecerdasan dan bukti yang diajukan. Namun saat kita bercurah hati bersama, saat itu menurutku saat paling rasional dalam kehidupan. Kita sebagai manusia begitu ingin untuk betutur tentang kehidupan. Ya, kehidupan kita. Manusia diberi umur panjang dan teman, salah satunya untuk saling bercerita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Cerita kehidupan itu adalah kehidupan. Betapa banyak orang yang mati karena mereka tidak bernah bertutur. Mereka frustasi dengan kehidupannya. Mereka membunuh diri mereka bukan karena mereka ingin mengakhiri kehidupan, tapi karena mereka tidak pernah bercerita tentang kehidupan mereka. Saat mereka tidak punya teman untuk menghilangkan kebekuan diri, maka mereka terus membeku dalam bentuk membunuh diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Bercerita itu kehidupan. Bayangkan betapa sepi-sunyi hidup tanpa cerita. Engkau boleh punya banyak teman dan sahabat, tapi jika mereka bukan tempat untuk bercerita, maka saat itu kehidupan adalah sebuah mimpi kematian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Saat D bercerita tentang hitam kehidupannya. Saat itu bukan ceritanya yang saya tidak percayai, saya percaya pada ceritanya, tapi bisakah diri ini menjadi orang yang dipercaya? Semakin jelek cerita itu menurut aku dan mungkin kamu, maka semakin diri ini bertanya ‘bisakah saya dipercaya?’ Jadi bukan cerita itu sendiri yang perlu dinilai kepercayaannya (kebenarannya) tapi apakah diri ini bisa nggak dipercaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Maka dari itu saya tidak pernah memaksakan dirimu untuk menceritakan tentang hitam. Hitam itu warna yang tidak kelihatan dalam kegelapan, dalam kegelapan diri Fauzi. Saat kita hitam saat itu pula saya akan membawa hitam ceritamu. Dan orang yang membawa warna putih, bukan tidak mungkin, mereka akan mengetahui hitammu. Saat itu yang saya takutkan. Saat saya tidak tahu dalam kehitamanku itu, bahwa aku juga membawa hitam cerita temanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Iya, kalau itu membawa kebaikan dalam hidupmu(nya). Tapi jika itu membawa kepada warna hitam yang lebih hitam, maka saat itu saya sedang dikeluarkan dari barisan sahabat, seperti yang pernah kau ucapkan padaku. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0.5in;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">&#8212;curhat kepada seorang teman. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ideografi.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ideografi.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ideografi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ideografi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ideografi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ideografi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ideografi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ideografi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ideografi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ideografi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ideografi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ideografi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ideografi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ideografi.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ideografi.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ideografi.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=5&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/warna-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f382fc6b601b25df24c3e4173888580d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ideografi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PILIH: TAKUT ATAU BERANI</title>
		<link>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/pilih-takut-atau-berani/</link>
		<comments>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/pilih-takut-atau-berani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 04:18:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ideografi</dc:creator>
				<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/pilih-takut-atau-berani/</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang: &#8220;Hidup itu pilihan&#8221;. Maka jika kamu dan aku ditantang untuk memilih antara berani dan takut, mana yang akan kita pilih? Takut dan berani adalah kondisi dikotomis yang tidak mungkin disatukan dalam satu jiwa, hati dan pikiran manusia. Kita tidak pernah merasakan dua sifat yang berbeda dalam satu waktu terhadap satu objek. Kita tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=4&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Kata orang: </span><span style="font-size:9pt;color:windowtext;">&#8220;Hidup itu pilihan&#8221;.</span><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;"> </span><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Maka jika kamu dan aku ditantang untuk memilih antara berani dan takut, mana yang akan kita pilih? Takut dan berani adalah kondisi dikotomis yang tidak mungkin disatukan dalam satu jiwa, hati dan pikiran manusia. Kita tidak pernah merasakan dua sifat yang berbeda dalam satu waktu terhadap satu objek. </span><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Kita tidak bisa <i>&#8220;I hate you but I love&#8221;</i> terhadap satu hal dan dalam satu waktu. Mungkin dalam hal ini, kamu atau saya bisa <i>hate</i>, contoh sederhananya: pacar, sifat urakan cowok/cewek saya atau kamu tapi kamu dan saya <i>love</i> dia tertutama karena sifatnya pelindung dan romantis. Dalam hal ini kamu sebenarnya tidak sedang dalam kondisi -membenci sifat urakan sekaligus mencintai dia karena objek dari <i>love</i> dan <i>hate</i> berbeda, walau dalam satu waktu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Saya atau kamu boleh memilih mana yang perlu di-<i>hate</i> dan di-<i>love</i> dan hidup, dalam hal ini, merupakan pilihan. Tapi kehidupan tidak selalu memberikan keleluasaan bagi kita untuk memilih, contoh simple kita tidak diberi pilihan untuk bentuk wajah kita, dari ibu siapa kita mesti lahir dan warna kulit apa yang harus melindungi tubuh kita dll. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><i><span style="font-size:9pt;color:windowtext;">Pilihan selalu membentang dan menantang kita untuk, pada akhirnya, membentuk siapa kita</span></i><i><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">. </span></i><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Kita tergantung dan dicitrakan terhadap dan oleh pilihan kita. Kita menjadi anggota LPM Kentingan oleh sebab pilihan kita; kita memilih pakaian kita yang mencerminkan diri kita; kita memilih buku yang kita sukai yang mencitrakan pikiran kita; kita memilih membantu orang karena itu pilihan kita yang mencerminkan jiwa-hati kita; atau sebaliknya kita memilih urakan, buku porno, menjahati orang yang semua itu pilihan kita. Seakan-akan kita itu </span><i><span style="font-size:9pt;color:windowtext;">“BORN TO CHOOSE. AND WE ARE WHAT WE CHOOSE.”</span></i><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Jika kita <i>“born to choose”</i> maka pada saat itu kita berada dalam satu posisi: berani atau takut memilih. Tidak setiap saat kita berani memilih satu pilihan. Contoh—walau tidak nyata—jika kita harus memilih mana dari dua orang ini- yang harus dipilih mati pertama kali: </span><span style="font-size:9pt;color:windowtext;">IBU</span><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;"> dan </span><span style="font-size:9pt;color:windowtext;">BAPAK</span><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;"> yang kita cintai -keduanya. Mungkin saya dan Anda akan memilih TIDAK MATI KEDUANYA. Tapi hidup tidak selalu memberikan pilihan yang manis. Dan di- luar yang harus dipilih bukan pilihan, sejatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Pada saat itu takut atau berani harus bermuara pada satu kata: pilihlah. Setakut dan seberani apapun kita, toh kita tetap harus memilih dan pilihan cenderung Cuma satu. Yang namanya pilihan itu satu, maka bukan sebuah pilihan jika kita memutuskan dua alternative untuk satu hal saja dari beberapa hal. Dan juga bukan pilihan jika objek yang harus kita pilih Cuma satu. Karena itu sebuah paksaan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Pertanyaan yang paling perlu ditanyakan dan kalau bisa dijawab tuntas adalah: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">1. kapan sebuah situasi dan kondisi dari sesuatu itu pilihan atau takdir?<br />
2. kenapa kita harus memilih satu dari beberapa hal, mempertimbangkan apa saja?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Pertanyaan pertama akan membuka jalan pada yang namanya pilihan itu sendiri. Kita tidak perlu memilih untuk sesuatu yang bukan pilihan. Ini akan menetramkan jiwa, karena kita bisa menganggapnya sebagai takdir tuhan. Dan jika itu bukan sebuah takdir, di situ terbentang sebuah pilihan dimana kita berhak untuk mengubahnya. Kita menggunakan keberanian untuk merubah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Untuk apa keberanian jika kita tidak tahu kenapa kita memilih sesuatu, pada pertanyaan kedua. Keberanian Cuma sebagai alat untuk mensukseskan pilihan, cermin diri. Orang sedang menunggu kita dan pada saat yang sama kita sedang dievaluasi dan dinilai. Apapun pilihan kita, dengan segala konsekuensinya, di situlah kita mempertaruhkan diri kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Setiap orang berhak untuk menentukan dan men-<i>jugde</i> apa itu pilihan dan takdir; kenapa kita memilih dan pertimbangan sesuatu, apapun itu, itu hak kita. Setiap orang dengan ilmu, pengalaman dan pertimbangannya berhak memiliki tafsir sendiri-sendiri. </span><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;">Karena kita &#8220;born to choose (what we can choose) and we are what we choose.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;color:windowtext;font-weight:normal;"> </span><span style="font-size:9pt;font-family:'Times New Roman','serif';">Ditulis oleh Fauzi—13 Mei 2007, pukul 15.15 WIB </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ideografi.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ideografi.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ideografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ideografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ideografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ideografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ideografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ideografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ideografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ideografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ideografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ideografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ideografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ideografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ideografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ideografi.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=4&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/pilih-takut-atau-berani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f382fc6b601b25df24c3e4173888580d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ideografi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EKSPRESI KEHIDUPAN</title>
		<link>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/ekspresi-kehidupan/</link>
		<comments>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/ekspresi-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 04:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ideografi</dc:creator>
				<category><![CDATA[hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ideografi.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[“Siapa kehilangan keberanian dia telah kehilangan segalanya” (Nietzche) Takut itu naluriah manusia. Pun demikian berani juga sifat hidup manusia. Keberanian dan ketakutan kita banyak disebabkan oleh kondisi diri dan lingkungan. Saya, kamu dan kita mungkin tidak pernah menyadari bahwa kita pertama kali masuk dunia ini dengan sebuah bentuk ketakutan dan keberanian: MENANGIS. Tahukah bahwa kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=3&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0.5in;" align="right"><i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;">“Siapa kehilangan keberanian</span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0.5in;" align="right"><i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;">dia telah kehilangan segalanya”</span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0.5in;" align="right"><i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">(Nietzche) </span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0.5in;" align="right"><i><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;"> </span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Takut itu naluriah manusia. Pun demikian berani juga sifat hidup manusia. </span><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Keberanian dan ketakutan kita banyak disebabkan oleh kondisi diri dan lingkungan. Saya, kamu dan kita mungkin tidak pernah menyadari bahwa kita pertama kali masuk dunia ini dengan sebuah bentuk ketakutan dan keberanian: </span><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;">MENANGIS</span><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Tahukah bahwa kita menangis karena kita takut akan bentuk dunia? Nenek moyang tertua kita Adam-Hawa sebenarnya tidak mau dimasukkan ke bumi! Oleh karena itu kita sebenarnya tidak mau masuk ke bumi karena di bumi ini tempat segala bencana dan cobaan, lalu kita menangis; sebuah bentuk ekspresi ketakutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Di sisi yang lain, menangis tersebut juga bentuk ekspresi keberanian;- keberanian untuk mengungkapkan isi hati kita pada publik. Hanya sedikit dari- kita, setelah dewasa, berani mengungkapkan ekspresi sebagai bentuk pengejawantahan hati. Beranikah Anda menangis di depan umum sebagai mana Anda tunjukkan pada masa Anda memasuki dunia pertama kali? Banyak orang yang lebih memilih memendam perasaannya dalam kuburan batin dari pada mengekspresikan dalam bentuk nyata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Kita kecil telah berani menangisi bentuk kehidupan dunia. Tapi setelah kita besar, kita kehilangan bentuk keberanian kita yang murni, spontan dan terkadang heroik. Saya tidak tahu apakah ketakutan dan keberaniaan kita telah berevolusi dan menjadi sebuah bentuk picisan yang naif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;">NALURI HEWAN <i>VS</i><span>  </span>KETAKUTAN</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Ketakutan terkadang menjadikan manusia sebagai seorang pembunuh, diktator dan bahkan predator. Mereka yang mampu membunuh ketakutannya akan menjadi seorang yang tidak saja pemberani tapi sering pembunuh. Bayangkan jika Adolf Hitler, Mossolini, Stalin, Soeharto dan sebagainnya punya rasa takut, mereka tidak akan pernah menjadi seperti itu; membantai berjuta manusia. Mereka telah menguasai ketakutan tidak saja ketakutan mereka tapi- juga ketakutan orang-orang di sekitar mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Mereka yang takut akan dikuasai oleh mereka yang mengusai ketakutan. Tidak peduli siapapun Anda; seekor raksasa atau manusia liliput yang kerdil. Anda mungkin pernah bermain &#8220;<i>finger game</i>&#8221; atau permainan yang menggunakan tiga jari: jempol, telunjuk dan kelingking, dimana semua jari tersebut boleh menang selama mereka mempunyai keberanian; jari kelingking yang kecil boleh membunuh jari jempol yang besar atau kata anak-anak, &#8220;semut bisa membunuh gajah yang besar.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Betapa kancil yang kecil bisa mengelabui semua lawan-lawannya yang besar hanya berbekal keberanian dan akal. Di sini keberanian harus ditekankan karena tanpa keberanian akal tidak pernah punya peran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;">Saat ketakutan dikendalikan oleh keberanian dan keberanian tidak ada yang mengontrol, katakanlah agama, nilai-nilai kemanusiaan, maka saat itu sifat kehewanan (<i>animal instinct</i>) akan menjadi bencana, bencana dari segala bencana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;">HARAPAN DAN KETAKUTAN</span></b></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Ketakutan kita akan berhadapan dengan bentuk ekspresi haparan. Dialah yang telah menghidupkan kita, melawan ketakutan kita, dan memanusiakan kita. Harapan akan menyabarkan diri melawan berbagai tantangan hidup yang sering beraroma ketakutan. Betapa manusia bisa menjadi seorang pahlawan bukan karena dia tidak punya ketakutan dalam diri tapi karena sebuah harapan yang membesarkan diri; harapan kehidupan yang lebih baik, tegaknya nilai kemanusiaan dan sebagainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Harapan bisa merupakan buah dari ketakutan yang bermetamorfosis menjadi sebentuk keberanian. Saat ketakutan mencapai titik zenith, maka dia bisa berubah menjadi harapan, negatif atau positif. Kehidupan memang ditegakkan oleh ketakutan dan harapan. Kita belajar mulai dari kecil sampai -entah kapan karena kita dihadapkan oleh ketakutan dan harapan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Kita takut tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan penghidupan laik, lalu kita belajar. Belajar akan membesarkan harapan dan mengkerdilkan ketakutan yang membelenggu kehidupan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Mereka mengkorupsi uang rakyat puluhan miliar rupiah merupakan bentuk ketakutan yang terkalahkan oleh harapan hidup yang lebih baik. Mereka berani membunuh ketakutan terhadap hukum massa, peradilan bahkan hukum tuhan karena mereka terbuai harapan dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Dalam bentuk lain, seorang ibu tega membuang anaknya sendiri karena mereka tidak melihat sebuah harapan. Dia melihat sebuah ketakutan dari- kemarahan masyarakat yang akan menghukumnya. Entah masyarakat akan memanggilnya, &#8220;pelacur&#8221; dan pada anaknya &#8220;anak haram.&#8221; Ini merupakan hukuman atas ketakutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Orang beribadah banyak karena disebabkan oleh bentuk ketakutan dan harapan. Mereka takut dimasukkan ke neraka; mereka berharap dimasukkan ke surga. Walau dalam tahap tertentu keduanya bukan sebuah alasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;font-weight:normal;">Bentuk ekspresi kehidupan secara sederhana bisa disimpulkan dalam dua kata: ketakutan dan harapan (<i>fear n hope</i>). <i>F—12 Mei 2007, 18.00 WIB.</i><span>   </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial','sans-serif';color:windowtext;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ideografi.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ideografi.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ideografi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ideografi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ideografi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ideografi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ideografi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ideografi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ideografi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ideografi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ideografi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ideografi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ideografi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ideografi.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ideografi.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ideografi.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ideografi.wordpress.com&amp;blog=3111920&amp;post=3&amp;subd=ideografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ideografi.wordpress.com/2008/03/10/ekspresi-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f382fc6b601b25df24c3e4173888580d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ideografi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
