Surakarta, 15.00 WIB
Hari Selasa untuk kita berdua F n D.
Mencari makna kehidupan dalam kekurangan dan kegelisahan. Mungkin itu bisa menjadi sebuah simpulan dari pertemuan kita. Sebuah pertemuan yang begitu ‘intim’, secara emosional dan rasional. Emosional, karena kita bisa menumpahkan seluruh sisi kehidupan gelap kita. Kita sadar bahwa hidup tidak putih atau hitam saja. Dia begitu penuh dengan warna, selayak pelangi. Pelangi yang menghiasi cakrawala pengalaman diri. Terkadang berwarna putih, biru, merah dan bisa juga hitam pekat dan sebagainya.
Tidak ada yang salah dari warna-warni kehidupan. Seorang pelukis akan marah sama tuhan jika dunia cuma berisi dua warna: hitam dan putih. Seorang Fauzi juga akan benci sama tuhan jika warna kehidupanku hanya hitam dan putih. Warna kehidupan itu pelangi, maka dari itu aku suka kehidupanku.
Dalam hidupku, aku tidak pernah memfokuskan keinginanku untuk terpaku pada satu warna kehidupan. Hitam saja. Hanya putih bening. Tidak. Warna kehidupanku sebanyak warna pelangi bahkan sering campuran dari berbagai warna pelangi. Maka tidak pernah aku bosan melihat kehidupan.
Satu waktu, warna kehidupanku putih. Semua yang aku lihat, rasa, semuanya, bermaura pada satu warna, putih. Semuanya seakan menyinari diriku. Aku seakan matahari yang terbit dari timur dalam kehidupanku dan bahkan orang lain.
Saat lain, aku terperosok ke dalam jurang hitam kehidupan. Saat itu aku tidak bisa mengenali kehidupanku. Aku adalah hitam petang yang tidak tercerahkan oleh warna putih. Saat itu datang dalam kehidupanku, aku terbiasa mengalirkan seluruh warna hitam emosiku. Aku mengisi seluruh waktuku, seluruh aktivitasku, dan seluruh jiwa-ragaku dengan hitam kehidupan. Aku mengutuk diriku, kehidupanku dan bahkan tuhanku.
Waktu-waktu tertentu aku begitu berpelangi dalam hidup. Satu jam merah, satu jam lagi putih, berikutnya hitam, ungu, berganti biru, kuning dan seterusnya. Saya tidak tahu siapa yang melukiskan warna kehidupanku. Terlalu banyak yang menjadi pelukis dalam kehidupanku. Terkadang aku sendiri menjadi pelukis, ibu-bapakku, temenku, dosenku, kamu dan bahkan ayam tetangga. Begitu banyak pelukis. Begitu banyak warna. Begitu banyak corak. Dan semuanya sering begitu berarti.
Begitu rasional. Rasionalitasku mungkin tidak serasional para filsuf, ilmuan atau akademisi. Rasionalitas itu bertingkat, sejalan dengan tingkat kecerdasan dan bukti yang diajukan. Namun saat kita bercurah hati bersama, saat itu menurutku saat paling rasional dalam kehidupan. Kita sebagai manusia begitu ingin untuk betutur tentang kehidupan. Ya, kehidupan kita. Manusia diberi umur panjang dan teman, salah satunya untuk saling bercerita.
Cerita kehidupan itu adalah kehidupan. Betapa banyak orang yang mati karena mereka tidak bernah bertutur. Mereka frustasi dengan kehidupannya. Mereka membunuh diri mereka bukan karena mereka ingin mengakhiri kehidupan, tapi karena mereka tidak pernah bercerita tentang kehidupan mereka. Saat mereka tidak punya teman untuk menghilangkan kebekuan diri, maka mereka terus membeku dalam bentuk membunuh diri.
Bercerita itu kehidupan. Bayangkan betapa sepi-sunyi hidup tanpa cerita. Engkau boleh punya banyak teman dan sahabat, tapi jika mereka bukan tempat untuk bercerita, maka saat itu kehidupan adalah sebuah mimpi kematian.
Saat D bercerita tentang hitam kehidupannya. Saat itu bukan ceritanya yang saya tidak percayai, saya percaya pada ceritanya, tapi bisakah diri ini menjadi orang yang dipercaya? Semakin jelek cerita itu menurut aku dan mungkin kamu, maka semakin diri ini bertanya ‘bisakah saya dipercaya?’ Jadi bukan cerita itu sendiri yang perlu dinilai kepercayaannya (kebenarannya) tapi apakah diri ini bisa nggak dipercaya.
Maka dari itu saya tidak pernah memaksakan dirimu untuk menceritakan tentang hitam. Hitam itu warna yang tidak kelihatan dalam kegelapan, dalam kegelapan diri Fauzi. Saat kita hitam saat itu pula saya akan membawa hitam ceritamu. Dan orang yang membawa warna putih, bukan tidak mungkin, mereka akan mengetahui hitammu. Saat itu yang saya takutkan. Saat saya tidak tahu dalam kehitamanku itu, bahwa aku juga membawa hitam cerita temanku.
Iya, kalau itu membawa kebaikan dalam hidupmu(nya). Tapi jika itu membawa kepada warna hitam yang lebih hitam, maka saat itu saya sedang dikeluarkan dari barisan sahabat, seperti yang pernah kau ucapkan padaku.
—curhat kepada seorang teman.