Kata orang: “Hidup itu pilihan”. Maka jika kamu dan aku ditantang untuk memilih antara berani dan takut, mana yang akan kita pilih? Takut dan berani adalah kondisi dikotomis yang tidak mungkin disatukan dalam satu jiwa, hati dan pikiran manusia. Kita tidak pernah merasakan dua sifat yang berbeda dalam satu waktu terhadap satu objek. Kita tidak bisa “I hate you but I love” terhadap satu hal dan dalam satu waktu. Mungkin dalam hal ini, kamu atau saya bisa hate, contoh sederhananya: pacar, sifat urakan cowok/cewek saya atau kamu tapi kamu dan saya love dia tertutama karena sifatnya pelindung dan romantis. Dalam hal ini kamu sebenarnya tidak sedang dalam kondisi -membenci sifat urakan sekaligus mencintai dia karena objek dari love dan hate berbeda, walau dalam satu waktu.
Saya atau kamu boleh memilih mana yang perlu di-hate dan di-love dan hidup, dalam hal ini, merupakan pilihan. Tapi kehidupan tidak selalu memberikan keleluasaan bagi kita untuk memilih, contoh simple kita tidak diberi pilihan untuk bentuk wajah kita, dari ibu siapa kita mesti lahir dan warna kulit apa yang harus melindungi tubuh kita dll.
Pilihan selalu membentang dan menantang kita untuk, pada akhirnya, membentuk siapa kita. Kita tergantung dan dicitrakan terhadap dan oleh pilihan kita. Kita menjadi anggota LPM Kentingan oleh sebab pilihan kita; kita memilih pakaian kita yang mencerminkan diri kita; kita memilih buku yang kita sukai yang mencitrakan pikiran kita; kita memilih membantu orang karena itu pilihan kita yang mencerminkan jiwa-hati kita; atau sebaliknya kita memilih urakan, buku porno, menjahati orang yang semua itu pilihan kita. Seakan-akan kita itu “BORN TO CHOOSE. AND WE ARE WHAT WE CHOOSE.”
Jika kita “born to choose” maka pada saat itu kita berada dalam satu posisi: berani atau takut memilih. Tidak setiap saat kita berani memilih satu pilihan. Contoh—walau tidak nyata—jika kita harus memilih mana dari dua orang ini- yang harus dipilih mati pertama kali: IBU dan BAPAK yang kita cintai -keduanya. Mungkin saya dan Anda akan memilih TIDAK MATI KEDUANYA. Tapi hidup tidak selalu memberikan pilihan yang manis. Dan di- luar yang harus dipilih bukan pilihan, sejatinya.
Pada saat itu takut atau berani harus bermuara pada satu kata: pilihlah. Setakut dan seberani apapun kita, toh kita tetap harus memilih dan pilihan cenderung Cuma satu. Yang namanya pilihan itu satu, maka bukan sebuah pilihan jika kita memutuskan dua alternative untuk satu hal saja dari beberapa hal. Dan juga bukan pilihan jika objek yang harus kita pilih Cuma satu. Karena itu sebuah paksaan.
Pertanyaan yang paling perlu ditanyakan dan kalau bisa dijawab tuntas adalah:
1. kapan sebuah situasi dan kondisi dari sesuatu itu pilihan atau takdir?
2. kenapa kita harus memilih satu dari beberapa hal, mempertimbangkan apa saja?
Pertanyaan pertama akan membuka jalan pada yang namanya pilihan itu sendiri. Kita tidak perlu memilih untuk sesuatu yang bukan pilihan. Ini akan menetramkan jiwa, karena kita bisa menganggapnya sebagai takdir tuhan. Dan jika itu bukan sebuah takdir, di situ terbentang sebuah pilihan dimana kita berhak untuk mengubahnya. Kita menggunakan keberanian untuk merubah.
Untuk apa keberanian jika kita tidak tahu kenapa kita memilih sesuatu, pada pertanyaan kedua. Keberanian Cuma sebagai alat untuk mensukseskan pilihan, cermin diri. Orang sedang menunggu kita dan pada saat yang sama kita sedang dievaluasi dan dinilai. Apapun pilihan kita, dengan segala konsekuensinya, di situlah kita mempertaruhkan diri kita.
Setiap orang berhak untuk menentukan dan men-jugde apa itu pilihan dan takdir; kenapa kita memilih dan pertimbangan sesuatu, apapun itu, itu hak kita. Setiap orang dengan ilmu, pengalaman dan pertimbangannya berhak memiliki tafsir sendiri-sendiri. Karena kita “born to choose (what we can choose) and we are what we choose.”
Ditulis oleh Fauzi—13 Mei 2007, pukul 15.15 WIB