“Buku yang dibaca seseorang adalah simbol gejolak pikiran dan hatinya”
(Fauzi jélék)
“As usual… menelan pil pahit kekecewaan,” begitu engkau menjawab, saat aku menyinggung jawaban yang kamu berikan (“whenever…whatever…”) atas pertanyaanku (mau kemana dan mau ngapain?). Jawaban dua kata bahasa Inggris yang terakhir itu mengandung unsur keputusasaan, kegalauan, kemarahan dan kekecewaan. Manusia yang mengalaminya sama akan halnya seekor burung merak yang terperangkap dalam sangkar kehidupan. Sebentuk sangkar kehidupan yang mematikan jiwa-jiwa kemanusiaan kamu (?) dan aku. Saat itu mendera jalan kehidupan anak manusia, maka saat itu “yang kau lihat ini hanya tubuhku, bukan tubuh sekalian dengan jiwa.”
Sayap Jiwa
Adakah yang lebih menjajah anak manusia jika dibandingkan dengan sebuah sangkar kecil yang mematahkan sayap-sayap jiwanya? Sayap-sayap jiwa manusia merupakan kehidupan yang penuh dengan secercah harapan. Secercah harapan yang akan membawanya terbang keangkasa surga dua dunia: (1) surga bumi yang penuh nyanyian riang dengan iringan musik melodi, yang penuh dengan arti kehidupan dan surga ukhrowi di mana setiap manusia akan meneguk anggur manis dari cawan emas berukir-hiaskan permata. Surga dua dunia itu tidak akan pernah ada meski dalam kehidupan hayal, jika sayap-sayap jiwa telah dirontokkan bulu-bulunya yang anggun nan menawan oleh sangkar kecil kehidupan, jiwa nestapa.
Sangkar kecil kehidupan memang tidak terpasang di dalam tubuh ragawi kita. Tapi dia selalu menawan jiwa kita yang penuh dengan kebebasan dan keindahan hidup. Mungkin itulah sebabnya kenapa jiwa-jiwa ini selalu dalam kepungannya. Dia tidak pernah menampakkan bentuk konkretnya untuk kamu dan aku hancur-leburkan. Dia selalu menjadi pil pahit kehidupan yang dengan terpaksa kamu dan aku telan. Lalu, siapa yang dengan tega-nesta membuat sangkar pengkerdil jiwa-jiwa anak manusia?
Serpihan Jiwa
Dia bisa sebentuk sosok manusia, bisa juga hanya pikirannya atau boleh jadi sebuah situasi-kondisi. Tapi dalam kehidupanmu, kamu mengidentifikasi “dia” sebagai “seseorang…dan saya tak pernah berharap untuk menelannya [baca:pil pahit].” Dan jika itu adalah sesosok pikiran dan sebentuk situasi-kondisi, maka pil itu merasuki kehidupan jiwa kita karena kita adalah makhluk yang terikat oleh waktu. Waktu itu menyimpan erat situasi-kondisi jiwa kita yang membentuk kejadian-kejadian di jiwa dengan segala bentuknya.
Saat-saat itu adalah saat jiwa kita berkata, “ universally, I’m hopeless (bahasamu) and universally I’m loneliness (bahasaku).” Jiwa-jiwamu saling sahut-sahutan, berputar antara kegelisahan, ketakutan, kegetiran dan keputusasaan. Semua berputar dalam roda setan kehidupan, menjelajahi lorong gelap kehidupan aku dan mngkin kamu. Kala itu kamu berkata, “it’s true that my surronding is empty…because, I’m hopeless, surrender, despreate…a lot of..” Saat aku, dan kamu mungkin, sedang menjalani sebentuk kehidupan seperti itu maka tidak ada kata yang mampu merepresentasikan bentuk-bentuk gejolak-kegelisahan jiwa. Baik itu jiwamu. Begitupun jiwaku.
Dan jiwa-jiwa ini menjadi serpihan-serpihan kecil yang tertiup angin Sahara. Entah kemana arah angina membawanya. Entah sampai kapan akan berhenti.
Buku Jiwa
Taatkala semua sepi dan meratapi, maka aku (mungkin kamu juga, tapi saya berharap tidak) seperti lembaran-lembaran yang penuh coretan tanpa arti dan makna. Ya, coretan tentang kehidupan hitam yang membentuk sebuah buku dengan coretan mantra-mantra setan. Mantra setan yang selalu menakuti jiwa-jiwa ini. Kala itu benar-benar menakutimu, maka kamu akan mengkataiku, “ yang aku takutkan cuma terasingan akan diri sendiri.”
Dan saat-saat itu menakutiku, aku berkata, “aku tidak cuma takut akan keterasingan diri tapi bahkan ketakutan dan kesendirian telah mematikan diri ini. Fauzi sejatinya telah mati. Mati dalam kemiskinan akan arti diri. Sungguh malang Fauzi itu.” Dan itu sebentuk coretan ekspresi jiwa ini. Dia tertulis dalam lembaran-lembaran jiwa yang mati ini. Mati tanpa pernah merasakan keindahan sebentuk harapan.
Dan lembaran demi lembaran, yang aku sendiri tidak tahu, aku bertanya mengapa begitu penuhnya coretan itu dalam seluruh lembaran sejarah kehidupanku. Sehingga sering kali jiwa ini memberontak dan setidaknya bertanya lirih, “adakah selembar kertas sisa yang bisa aku gambar dan aku tulisi dengan kata-kataku sendiri?” Dan kalau memang kertas itu masih ada maka aku akan menulis, minimal untuk menjadi oase bagi kedahagaan jiwa-jiwaku “HARGAI DAN MAKNAI HIDUPMU, DENGAN SESUNGGUHNYA PENGHARGAAN DAN PEMAKNAAN AKAN KEHIDUPAN.”
Dan tulisan tersebut akan aku letakkan pada halaman pertama. Kalau perlu dan mendesak akan aku buat kata-kata itu sebagai cover. Cover dalam setiap buku adalah bermanfaat untuk melindungi isi sebuah buku. Namun jika dalam hidupku semua lembaran dalam buku kehidupanku sudah terpenuhi dengan coretan-coretan setan, dengan segala mantranya, maka dengan amat sangat aku berharap ia, sang cover, menjadi bagian penutup dalam lembaran terakhir buku kehidupanku. Ya, lembaran terakhir dari hidupku. Dan ya, menjadi cover bagian belakang untuk buku kehidupanku.
Selembar Jiwa
Masih adakah lembaran sisa itu untukku, tuhan? Hanya selembar untuk jiwaku, tidak kurang tidak lebih, masihkah? Jika memang itu ada, sebagaimana matahari akan terbit esok pagi menyinari kehidupan bumi, maka kapankah aku boleh menggambar dan menulisnya? Saat aku terlepas dari sangkar kecil kehidupan? Adakah? Kapan?
Namun bagi kamu, dengan sangat saya berharap pada tuhan bahwa kamu masih memilki seribu lebih lembaran-lembaran kosong, untuk kamu menggambar dan menulis tentang keindahan warna-warni kehidupan. Ya, seribu lembar lebih. Dan aku berharap, dalam tulisan-tulisanmu, tidak akan pernah sehurufpun menyatakan tentang warna rona kehidupanku.
Karena, “saya berharap sangat, ‘seseorang’ itu —dialah yang telah menyakitimu— adalah aku, Fauzi. Aku semakin takut untuk ‘bergaul’ dengan Anda. Aku, dalam hidupku sekarang, sedang membawa obor dengan api hitam. Aku takut obor itu akan membakar tidak hanya aku tapi juga Anda yang terhormat.” Saat itu aku takut lembaran, yang aku berharap pada tuhan untuk mu, akan terbakar hangus dan habis. Menjadi abu hitam, sehitam warna kehidupanku yang sekarang.
Kamu jangan lagi berkata, “kenapa mesti takut? Seseorang itu bukan kamu…tapi dia.” Karena wangi dan busuknya kehidupan seseorang akan mewangi dan membusuki alam sekitarnya, sebagaimana orang akan menjadi wangi jika bergaul-berkumpul (berteman) dengan penjual minyak wangi. Demikian juga dengan kamu dan aku. Tahukah kamu, aku sangat berharap kamu menuliskan kewangian kehidupanmu dengan segala variasinya. Semoga. Amin ya rabbal alamin.
Dan begitulah aku sedang membaca buku sejarah kehidupanku sendiri. Buku sejarah yang penuh simbol gejolak pikiran dan hati. Dalam kesendirian.
· Ditulis oleh Mohammad Fauzi saat kencangnya angin malam menderu jendela-jendela kamar. Sang angin malam seolah-olah ingin berpacu dengan lagu yang disenandungkan oleh GARASI. Lagu itu berjudul HILANG. Saat itu terbesit pertanyaan dalam jiwa matiku, mengikuti alunan liriknya band Garasi, apakah “semua telah menghilang. Tak berarti. Tak kembali”? Dan berakhirlah tulisan ini pada jam 09.17 malam WIB. Hari Rabu, tanggal 13 Juni 2007, beriringan dengan berakhirnya lagu HILANG.