EKSPRESI KEHIDUPAN

“Siapa kehilangan keberanian

dia telah kehilangan segalanya”

(Nietzche)

Takut itu naluriah manusia. Pun demikian berani juga sifat hidup manusia. Keberanian dan ketakutan kita banyak disebabkan oleh kondisi diri dan lingkungan. Saya, kamu dan kita mungkin tidak pernah menyadari bahwa kita pertama kali masuk dunia ini dengan sebuah bentuk ketakutan dan keberanian: MENANGIS.

Tahukah bahwa kita menangis karena kita takut akan bentuk dunia? Nenek moyang tertua kita Adam-Hawa sebenarnya tidak mau dimasukkan ke bumi! Oleh karena itu kita sebenarnya tidak mau masuk ke bumi karena di bumi ini tempat segala bencana dan cobaan, lalu kita menangis; sebuah bentuk ekspresi ketakutan.

Di sisi yang lain, menangis tersebut juga bentuk ekspresi keberanian;- keberanian untuk mengungkapkan isi hati kita pada publik. Hanya sedikit dari- kita, setelah dewasa, berani mengungkapkan ekspresi sebagai bentuk pengejawantahan hati. Beranikah Anda menangis di depan umum sebagai mana Anda tunjukkan pada masa Anda memasuki dunia pertama kali? Banyak orang yang lebih memilih memendam perasaannya dalam kuburan batin dari pada mengekspresikan dalam bentuk nyata.

Kita kecil telah berani menangisi bentuk kehidupan dunia. Tapi setelah kita besar, kita kehilangan bentuk keberanian kita yang murni, spontan dan terkadang heroik. Saya tidak tahu apakah ketakutan dan keberaniaan kita telah berevolusi dan menjadi sebuah bentuk picisan yang naif.

NALURI HEWAN VS KETAKUTAN

Ketakutan terkadang menjadikan manusia sebagai seorang pembunuh, diktator dan bahkan predator. Mereka yang mampu membunuh ketakutannya akan menjadi seorang yang tidak saja pemberani tapi sering pembunuh. Bayangkan jika Adolf Hitler, Mossolini, Stalin, Soeharto dan sebagainnya punya rasa takut, mereka tidak akan pernah menjadi seperti itu; membantai berjuta manusia. Mereka telah menguasai ketakutan tidak saja ketakutan mereka tapi- juga ketakutan orang-orang di sekitar mereka.

Mereka yang takut akan dikuasai oleh mereka yang mengusai ketakutan. Tidak peduli siapapun Anda; seekor raksasa atau manusia liliput yang kerdil. Anda mungkin pernah bermain “finger game” atau permainan yang menggunakan tiga jari: jempol, telunjuk dan kelingking, dimana semua jari tersebut boleh menang selama mereka mempunyai keberanian; jari kelingking yang kecil boleh membunuh jari jempol yang besar atau kata anak-anak, “semut bisa membunuh gajah yang besar.”

Betapa kancil yang kecil bisa mengelabui semua lawan-lawannya yang besar hanya berbekal keberanian dan akal. Di sini keberanian harus ditekankan karena tanpa keberanian akal tidak pernah punya peran.

Saat ketakutan dikendalikan oleh keberanian dan keberanian tidak ada yang mengontrol, katakanlah agama, nilai-nilai kemanusiaan, maka saat itu sifat kehewanan (animal instinct) akan menjadi bencana, bencana dari segala bencana.

HARAPAN DAN KETAKUTAN

Ketakutan kita akan berhadapan dengan bentuk ekspresi haparan. Dialah yang telah menghidupkan kita, melawan ketakutan kita, dan memanusiakan kita. Harapan akan menyabarkan diri melawan berbagai tantangan hidup yang sering beraroma ketakutan. Betapa manusia bisa menjadi seorang pahlawan bukan karena dia tidak punya ketakutan dalam diri tapi karena sebuah harapan yang membesarkan diri; harapan kehidupan yang lebih baik, tegaknya nilai kemanusiaan dan sebagainya.

Harapan bisa merupakan buah dari ketakutan yang bermetamorfosis menjadi sebentuk keberanian. Saat ketakutan mencapai titik zenith, maka dia bisa berubah menjadi harapan, negatif atau positif. Kehidupan memang ditegakkan oleh ketakutan dan harapan. Kita belajar mulai dari kecil sampai -entah kapan karena kita dihadapkan oleh ketakutan dan harapan.

Kita takut tidak bisa mendapatkan pekerjaan dan penghidupan laik, lalu kita belajar. Belajar akan membesarkan harapan dan mengkerdilkan ketakutan yang membelenggu kehidupan.

Mereka mengkorupsi uang rakyat puluhan miliar rupiah merupakan bentuk ketakutan yang terkalahkan oleh harapan hidup yang lebih baik. Mereka berani membunuh ketakutan terhadap hukum massa, peradilan bahkan hukum tuhan karena mereka terbuai harapan dunia.

Dalam bentuk lain, seorang ibu tega membuang anaknya sendiri karena mereka tidak melihat sebuah harapan. Dia melihat sebuah ketakutan dari- kemarahan masyarakat yang akan menghukumnya. Entah masyarakat akan memanggilnya, “pelacur” dan pada anaknya “anak haram.” Ini merupakan hukuman atas ketakutan.

Orang beribadah banyak karena disebabkan oleh bentuk ketakutan dan harapan. Mereka takut dimasukkan ke neraka; mereka berharap dimasukkan ke surga. Walau dalam tahap tertentu keduanya bukan sebuah alasan.

Bentuk ekspresi kehidupan secara sederhana bisa disimpulkan dalam dua kata: ketakutan dan harapan (fear n hope). F—12 Mei 2007, 18.00 WIB.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.