Cinta Yang Dipertanyakan*

Sebuah Interpretasi Subjektif Tentang “Pacar dan Cinta”

 1

Ditembak, untuk seorang cewek, mungkin menjadi hal terindah dalam hidupnya. Atau, menjadi hal yang paling menyakitkan dalam perjalan kehidupan manusia cewek. Tapi ada kalanya itu menjadi momen yang abu-abu alias gak jelas. Bisa juga sekadar: “kaget”.

Untuk cewek satu ini barang kali yang paling berkesan bukan “tembakan”-nya tapi penembaknya, entahlah. Hal ini karena, menurutnya, si penembak baru saja kenal dengannya; dan tentu kesan yang tampil berbau negative atau paling tidak bikin penasaran: siapa sih cowok yang kayal gini. Fauzi terlalu tidak tahu untuk hal ini. Jujur dulu saya pernah ditanya oleh seorang akhwat yang sudah punya suami. Umurnya sama dengan Fauzi, dia bernama panggilan UMI.

Pertanyaan itu: “Apakah kamu udah punya pacar?” Pada saat itu, seperti biasa, saya tidak menjawab terlebih dahulu tapi balik bertanya, “Apa itu pacar? Dengan kriteria seperti apa dan bagaimana kita memposisikannya dalam pergaulan social kita, bahkan dalam pergaulan agama?” Jawabannya terlalu klise di telingan Fauzi, apalagi itu terlalu mengikuti konsessus umum yang berlaku, baik konsesus dari masyarakat pemuda umumnya atau dari golongan “aktivis religius” yang mengusung jargon: “cinta yes, pacaran no” (mungkin ini Cuma stereotype yang tidak beralasan).

Tentu saja Fauzi saat itu Cuma tertawa mendengar beberapa alasannya, apalagi bagi Fauzi yang saat itu sedang agak “sinting” dan sedikit agak tidak ‘manusiawi’ dan filosofis. Akhirnya Fauzi Cuma minta alamat emailnya, dengan harapan Fauzi dapat memberikan kriteria “pacar” yang, munurut Fauzi, lumayan agak sedikit “manusiawi”. Dan beberapa hari berikutnya email itu tertulis dan terkirim. Isi email itu seperti ini:

 Assalamuaiakum. Senang bertemu dengan seorang muslimah, apa lagi jika setiap bertemu adalah sebuah ilmu, di balik pertemuan itu. Bukankah itu yang selalu diajarkan oleh seorang pencari-penyebar ilmu sejati di dunia ini, dengan semboyanannya, “mencari ilmu itu wajib
bagi seorang muslim dan muslimah.” Ya dia Muhammad. Nama yang penuh dengan pujian dan pengaguman (bukan pengkultusan diri pribadinya!?[ragawi]).

Menarik sekali ketika saya bertemu dengan muslimah ini, dia senang dipanggil dengan sebutan itu(?). Namanya “umi” yang mengisaratkan sebuah teladan dan perjuangan seorang ibu. Ditambah lagi “puji”, sesuatu yang pantas dia peroleh. Saat itu, ada pertanyaan yang menurut Fauzi pribadi sangat “pemuda” dan mungkin religius banget. Tapi Fauzi ingin membahasnya dalam ranah religiuitas, bukankah itu lebih menarik perhatianmu? Pertanyaan itu adalah pertanyaan umum,”apakah kamu punya pacar?”

Aku ingin mengklarifikasi jawabanku yang dulu: “ya, aku punya”. Jawaban ini sebenarnya sudah mencakup semua yang aku maksud dalam arti pacar yang aku definisikan, jadi menurut definisiku sendiri (mungkin Anda boleh tidak sejutu atau ingin memberikan masukan). Sekali lagi memakai definisiku, definisi yang dipakai oleh Fauzi sendiri, tidak orang lain siapapun.

 Terus terang aku tidak punya “pacar”. Aku sedang menembak calon “pacar”, yang sejak dulu aku idamkan. “Seorang” pacar yang akan selalu menemani diri ini dalam tiga hal: pikiranku, hatiku, dan agamaku (mungkin sedikit ragaku) yang semuanya tidak pacarku itu, sedetikpun, meninggalkan ketiga itu. Atau, dengan perkataan lain: itu menjadi “prasyarat” yang harus dipenuhi oleh dia yang menjadi pacarku. Terlalu angkuhkah dan tidak manusiawi? Mungkin saja. 

 Pacar-pikiranku, dialah yang membimbing nalarku dalam kehidupan yang sebentar ini. Dan itu aku tawarkan pada seorang pemikir, baik pemikir dalam agamaku atau duniaku. Siapa dia?

 Pacar-hatiku, dialah yang akan menjaga hati ini dari serbuan rayu kelicikan jiwa. Siapa?

Pacar-agamaku, dialah pacarku dalam bermanusia yang sejati. Dia harus menjadikanku seorang yang berhati-berpikir, tentu dalam bingkai raga. Namun sampai saat ini orang itu belum pernah menjawab pinanganku. Bukan dia tidak cinta padaku. Tidak, dia sangat cinta padaku. Aku tahu itu. Namun, cara bagaimana aku mencintainya itulah yang tidak mencerminkan cinta. Sebuah cinta pada sang kekasih. Aku masih belajar mencintai, sebelum aku benar-benar menjadi pecintanya (semoga). Entah bagaimana saya akan sampai padanya! Aku seharusnya sudah tahu, tapi seluruh diri ini bertolak belakang dari cinta yang saya tahu. Saya sedang mencari tali untuk sampai padanya.

Dialah MUHAMMAD yang sampai saat ini tidak aku dapatkan. Untuk sampai pada CINTANYA, CINTA MUHAMMAD yang pada akhirnya akan sampai pada Cinta-Tuhan,  Ar-Rohman, Ar-Rohim (makna serampangannya Pecinta Sejati).

 (Tunjukkan aku ‘jalan’ pada KeduaNYA. Fauzi yg merindu!  Aku berdo’a semoga IBUKU memohonkannya untukKU, anaknya yg merindu. AMIN! Aku sudah tidak punya kekuatan untuk berdoa pada calon kekasihku, Mohammad dan Tuhan. Bisakah aku?????)

 Cinta, sebab tiga hal tersebut, harus melewati fiksasi tubuh dan waktu, untuk sampai pada semua itu namun tidak mengandaikan suatu keabadian cinta. Dan itu memperbolehkan mencintai orang (yang karena gagasan-perjuangannya) yang telah ditinggalkan oleh tubuh ringkihnya: sudah mati atau masih hidup. Tidak peduli itu disebut “homoseksual”, poli-multigami, heterseksual, dan sebagainya.

 Cinta dalam tafsiran ini tidak berdasarkan jenis kelamin (cowok-cewek), hubungan darah (ibu-bapak yang telah melahirkan kita), atau persahabatan dan sebagainya. Bukankah yang menjadikan “terlarangnya” pacaran (jika ikut “aliran” yang melarang pacaran), dalam tafsiran orang umum, adalah perangkap tubuh jelek ini? Menurut aku, ya. Menurut kamu?  Sampai dibalasan berikutnya. Ku tunggu balasan mu.

2

Di sini, Fauzi mencoba memberikan ‘definisi baru’ tentang pacar dan cinta, yang melingkupi tiga karakter sekaligus prasyarat (kamu bisa menggunakan kata-kata suami-istri, kekasih dsb, jika kurang sreg dengan kata-kata itu). dari tiga hal itu, rasa-rasanya sulit terkumpul dalam diri manusia. Bisa dikatakan sebuah impian cinta utopis belaka, yang sangat mungkin bisa tidak berarti sama sekali.

Hal ini mengaidaikan bahwa kita senang dan cinta pada hal-hal yang terbaik atau bahkan harus yang paling baik. Dan itu tidak ada, menurut Fauzi, kecuali dalam diri Muhammad dan Allah, tentu saja. Sebagai evidensinya kamu bisa menjejer sebutan yang Kedua (tentu juga ada pada diri Muhammad-Nya) dalam apa yang biasa disebut Asmaul Husna. Coba kamu artikan dan interpretasikan, dan bayangkan dalam dirimu satu saja, sebagai contoh Ar-Rohman, Sang Maha Pencinta-Kasih di dunia-akhirat, maka kamu akan menemukan bahwa itu adalah sebuah kesempurnaan, yang terbaik. Karena ke-Ar-Rohman-annya tidak sama dengan yang melekat pada manusia. Ketidak samaanya, jika memakai kata-katamu, “Jika memang pernikahan begitu indah, mengapa pula ada percaraian? Setelah melewati waktu bersama, pasangan mulai bosan dan saling menghujat. Lantas, dimana keindahan itu? where is the love?” Atau, lebih ekstreamnya, kenapa kita tidak mencintai mereka berdua saja? Bukankah “Dia  sumber cinta terbesar”? Ah… barang kali karena “Dia terlalu besar”, kita sebagai manusia tidak bisa menampung cintanya, yang tidak hanya sebagai sekadar “sumber”.

Untuk itu, jika kita mau sedikit mempertanyakan diri kita tentang perkataan yang sering kita dengar-ucapkan, maka rasanya hal ini tidak ada yang aneh apalagi menyimpang. Bukankah kita sering berkata, jika meminjam perkataanmu lagi, “Kita bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. Jika ia mencintaiku karena Alla, maka cinta itu akan abadi. Bagiku, Allah adalah sumber cinta terbesar, kita tidak akan miskin meski mengemis cinta-Nya” (huruf tebal dari Fauzi). Perkataan ini sering Fauzi dengar, terutama di pondok dulu dan kurang sering di kampus ini.

Namun, ada sesuatu yang agak menggelitik, menurut Fauzi, yaitu kata “karena Allah” (ini yang pertama). Apakah dalam hal ini berlaku hukum kausalitas, sebab-akibat, yang untuk itu pasti ada sebab terawal? Hal ini tentu terkait erat dengan pemaknaan kata “karena” yang mengandaikan adanya akibat dan beraroma ‘takdir’ yang berada di luar jangkuan manusia. Oleh, karena itu manusia tidak bisa mengontrol apalagi memberikan syarat untuk bisa, katakanlah, jatuh cinta pada seseorang manusia karena satu-iman, keturunan orang baik-baik, tampan-cantik, berpenghasilan, dan mungkin juga perlu ditambah cerdas.

Orang-orang mengartikan “karena Allah” dengan menyamakannnya persis dengan beribadah dan berarti men-tuhan-kan Allah yang memang dari sananya mah Tuhan. Namun, menurut Fauzi, kata “karena Allah” berpemahaman bahwa di sini mengandaikan hukum kausalitas dan usaha seorang manusia, bukan semata-mata takdir. Dalam hukum kausalitas (dan usaha), sebab-akibat, kita mengandaikan bahwa jika kita mengerti tentang suatu sebab kita bisa (usaha) membuat akibat. Kita bisa membuat nasi (akibat) dengan memasaknya di atas api kompor (sebab) karena kita tahu api bisa membuat atau berakibat pada masaknya nasi.

Pun demikian tentang cinta. Kita mencintai (sebagai akibat) jika kita tahu penyebab-penyebab cinta, atau factor yang menyebabkan kita mencintai sesuatu. Namun sayang kita sering dikaburkan tentang sebab-sebab cinta. “Cinta adalah anugerah tuhan yang suci, cinta sejati adalah cinta yang datang dengan sendirinya” dan sebagainya.

Kemudian, yang kedua, yang menggelitik pikiran kecil Fauzi adalah kata-kata “abadi” yang menyangkut sebentuk perasaan manusia. Dan sering kita dengar cinta yang paling sejati akan abadi sampai ke akhirat. Kata ini menurut fauzi terlalu angkuh dan arogan. Ia lupa kodratnya sebagai manusia naïf walaupun kelak ia akan masuk surga, semoga. Bukankah yang abadi dan memang Ia harus abadi adalah Tuhan semata. Ah… rasanya aneh juga kalau memikirkan tentang surga dan neraka yang katanya kekal juga manusia-manusia di dalamnya: berarti ada juga yang bakal kekal “menyamai-menyerupai” Tuhan dan itu dibuat oleh Tuhan sendir. Seakan-akan itu tidak “menyerupai” sifat tuhan karena manusia pernah banyi-kecil, remaja, dewasa, tua lalu dimatikan. Barang kali Fauzi salah.

Lalu, yang ketiga, adalah kata-kata “mengemis”. Menurut Fauzi kata ini terlalu merendahkan Tuhan sebagai tuhan, seolah-olah Dia kikir-pelit memberikan cinta pada manusia. Jika benar Ia pelit, mumpung di Indonesia lagi zaman demokrasi dan marak demontrasi, rasanya perlu juga kita demo menuntut penurun-Nya sebagai tuhan dengan alasan Dia sangat pelit yang tidak pantas disandang oleh Tuhan. Fauzi pasti salah dalam hal ini.

Sepertinya tulisan ini semakin menjauh dari yang seharusnya.

3

Beberapa paragraf di atas, kalau disimpulkan, berbicara tentang criteria atau syarat yang sering diajukan oleh manusia, tidak peduli laki-laki atau perempuan. Yang pertama syarat yang diajukan oleh orang yang kurang mendunia (down to earth) menerawang yang mungkin lebih suka ketidakpastian amat sangat; yang kedua criteria yang dibuat oleh manusia yang sangat mendunia. Kedua-duanya memiliki kekurangan dan kelebihan, mungkin. Fauzi akan memberikan sedikit komentar atas criteria yang kedua―kamu, Fauzi harap, memberikan komentar atas criteria yang pertama.

 Manusia sudah sedari dulu sering memberikan standar nilai tentang orang lain, terutama sekali terhadap orang yang bersangkut-paut dengan dirinya. Tidak ada yang aneh, dan siapapun boleh mengajukannya kepada siapapun. Maka tidak heran jika ‘dia’ masih sempat untuk meng-cross-check kriterianya terhadap orang “itu”. Dan memang hasil tidak sesuai dengan prasyarat yang diajukannya; hasil akhirnyapun sudah bisa diduga kemungkinan besar adalah tidak.

Namun Fauzi (enaknya bukan kita) sering lupa terhadap diri sendiri bahwa orang lain juga mempunyai criteria atau prasyarat juga―dalam hal ini mungkin si cowok sudah menganggap kamu sudah memenuhi criteria dia. Namun dia lupa bahwa kamu juga memiliki prasyarat yang harus dia penuhi. Dalam posisi sama-sama kuat untuk mengajukan prasyarat, kita sering terlalu meninggikan diri tanpa melihat siapa diri ini. Namun bukan berarti kita harus menyerah untuk mendapatkan orang yang lebih jelek dari diri kita. Tidak sama sekali.

Hanya saja sikap kitalah yang sedikit agak dipermasalahkan. Kita terkadang tidak memberikan posisi yang seimbang pada orang lain (bukan bermaksud kamu seharusnya meng-iya-kan tawarannya).

4

Dalam tulisan “Saat Cinta Dipertanyakan” terdapat beberapa rasa ketakutan yang disebabkan oleh beberapa pengalaman orang lain. Hal ini sangat wajar dan sebentuk kewaspadaan diri. Dengan itu berarti kamu sudah mulai memahai arti sebuah pengalaman yang dengan sendirinya akan membentuk benteng pertahanan diri.

Namun jika terlalu membesar-besarkannya juga tidak baik. Karena terkadang kita terjebak dalam bersikap yakni kita bersikap appriori, bukan aposteriori. Dalam sikap appriori, bisa saja kita salah membuat kesimpulan karena yang kita tahu adalah akibat-akibatnya saja tanpa mendalam sebab-sebab. Yang jika kita memahami sebab-sebab dasarnya bisa saja sebenarnya fakta-fakta yang ada (akibat) itu disebabkan oleh hal-hal lain yang berbeda dari asumi kita semula.

Bisa juga kita terpengaruh oleh sikap terlalu menggeneralisir sesuatu; atau, terlalu menspesifikasi hal-hal yang terjadi pada individu bahwa sesuatu yang terjadi pada orang banyak bisa sangat mungkin terjadi pada diri kita. Pun demikian sebaliknya tanpa landaan yang kuat.

5

Lalu, di manakah posisi Fauzi khusus? Ini pertanyaan serius dan mendesak untuk dicari jawabannya. Dan sayangnya Fauzi cuma ngomong: “No comments and I have no idea.”

*Surat balasan dari surat berjudul “Cinta Yang Dipertanyakan. “Ditembak: Kamu Mengelak atau Menolak?” merupakan judul tulisan ini, awalnya. Namun sepertinya kurang pas. Semoga malah tambah (tidak) membingungkanmu: sekadar tanggapan belaka dan karena itu jangan terlalu percaya bantahlah argument, asumsi, opini di dalamnya. Solo, Minggu, 25 November 25, 2007. Jam 02.00 dini hari setelah nonton Naruto, yang penuh dengan pertentangan dan paradoks-ambivalen.© M. Fauzi, jèlék.

 

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.